Ketika Dokter Soetomo Berbicara Tentang Pesantren

283 kali dibaca

“Sekolah-sekolah pemerintah (kolonial) hanya menghasilkan pegawai, dan hanya ditujukan untuk mengasah otak saja, serta menciptakan manusia-manusia yang hanya memusatkan perhatian pada diri sendiri (egoistik) dan yang saling bersaing untuk mendapat  secupak nasi”– Pidato Dokter Soetomo dalam Kongres Pendidikan Nasional Pertama pada 1935.

Dokter Soetomo lazim dikenal sebagai pendiri organisasi Boedi Oetomo, salah satu organisasi pergerakan nasional pertama Indonesia pra-kemerdekaan. Harum namanya begitu teringat di benak para pelajar di Indonesia, setidaknya mengingatkan pada Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati tiap tanggal 20 Mei. Di bawah kuasa Bung Karno, pada tahun 1948, ditetapkan kelahiran organisasi Boedi Oetomo sebagai Hari Bangkitnya Nasionalisme Indonesia. Lalu diperbarui melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 menjadi Hari Kebangkitan Nasional.

Advertisements

Pendidikan Lahir dan Batin

Menukil Ahmad Baso, dalam suatu adu gagasan kebudayaan yang berkisar pada tahun 1930-an yang dikenal dengan “Polemik Kebudayaan”, Dokter Soetomo dan Ki Hajar Dewantara tampil membela pesantren di tengah serangan para pendukung sekolah kolonial.

Di satu kubu, pendukung sekolah modern kolonial, para pejabat kolonial dan intelektualnya, seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Sutan Sjahrir, Armin Pane, dan kelompok Pujangga Baru, mengampanyekan pencerdasan anak-anak bangsa melalui sekolah sekolah modern untuk mencintai pemerintah kolonial.

Baca juga:   Tafsir Revolusi Akhlak

Pada tahun 1930-an, di tengah gempuran gagasan Eropa sentris yang dibawa oleh pemerintah kolonial begitu mewarnai kancah pemikiran perihal kebudayaan di Tanah Air. Bagaimana tidak, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) melalui esainya yang bertajuk “Didikan Barat dan Didikan Pesantren: Menuju ke Masyarakat yang Dinamis” menganggap pendidikan harus dijauhkan dari pesantren. Alasannya, pendidikan pesantren memuat anti-intelektualisme, anti-individualisme, anti-egoisme, anti-materialistik”.

Pernyataan sarkastik STA begitu menampar gagasan Soetomo yang mendukung arus pesantren sebagai model pendidikan Indonesia. Bahkan, dengan kerasnya, STA mengatakan jika persatuan yang berpusat pada kiai dan pesantren menjadi penyebab atas jatuhnya bangsa ini.

STA, dalam sadurannya memiliki asumsi bahwa kebudayaan Barat yang mengutamakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, dan keterampilan berorganisasi, perlu ditiru oleh bangsa Indonesia agar setara, bahkan bisa lebih dinamis dari Barat.

Di sisi yang lain, Soetomo beranggapan bahwa bangsa Indonesia tidak perlu melirik bahkan meniru terhadap gagasan kebudayaan Barat seperti yang dilontarkan STA. Bagi Soetomo, bangsa ini telah memiliki khazanah sendiri yang lebih genuine yakni, khazanah pesantren.

Dengan sikap yang tegas, Soetomo tidak tinggal diam. Usaha melawan gagasan STA pun terus dilakukan. Soetomo yang membawa gagasan cinta tanah air mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa sekolah modern bentukan kolonial hanya akan menciptakan kaum buruh. Di sisi yang lain, Soetomo juga menganggap pendidikan di sekolah akan menurunkan budi serta kemanusiaan dan hanya bermuara pada kesenangan jasmani.

Baca juga:   Tafsir Mistis-Mitologis dalam Tafsir Jalalayn

Dengan sikap takzim pula, Soetomo menyebut para kiai dengan masyhur harum namanya, kepandaiannya, kealiamannya, kebijaksanaannya. Di pondok pesantren digunakan sebagai tempat berkumpulnya para pemuda dari berbagai daerah dan golongan untuk mendengar dan memerhatikan sabda sang guru yang menjadi pedoman bagi hidupnya. Terlebih, Soetomo menyebut pendidikan akan sempurna jika ilmu yang dipelajari akan dipraktikkan seperti yang ditemui di banyak pondok pesantren.

Tidak hanya mengajarkan ilmu lahir, para kiai dalam sorotan Soetomo juga menjadi penerang dunia batin yang dapat memimpin masyarakat menuju kehidupan tenteram dan damai. Hal tersebut yang menjadi urgensi bagi kehidupan. Pasalnya, sekolah modern garapan kolonial tidak mengenal perihal kebatian (baca: spiritualitas). Sehingga nantinya akan jatuh pada pusaran materialistik yang hanya berporos pada kesenangan duniawi.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan