Jangan-Jangan, Kita Adalah Neo-Fir’aun

504 kali dibaca

Berbicara tentang Fir’aun, saya meyakini pasti sudah sangat masyhur dan mutawatir dalam benak kita semua. Sejak masih kecil, kita didoktrin oleh para guru guna menjadi pelopor kebaikan. Perwujudannya diarahkan untuk selalu mengarusutama tolong menolong, semangat mencari ilmu, menjadi pribadi jujur, dan tidak boleh berbuat jahat pada liyan. Tidak jarang dalam prosesi penyampaiannya menisbatkan sosok-sosok antagonis, salah satunya yaitu Fir’aun, sebagai cermin kehidupan.

Fir’aun adalah sebutan bagi setiap penguasa Mesir kuno. Jadi, entah siapapun sosok yang menjadi penguasa, serentak dengan itu, ia mendapat gelar “Fir’aun”. Pemahaman seperti ini yang nampaknya belum membumi di masyaarakat kita. Kebanyakan dari mereka masih menganggap bahwa Fir’aun yaitu nama asli dari seorang tokoh. Padahal hal tersebut adalah suatu hal kekeliruan.

Advertisements

Istilah Fir’aun mulai populer setidaknya sejak bergulirnya hikayat Nabi Musa. Kemudian, “kepopuleran” Fir’aun semakin bertambah lantaran diabadikan dalam kitab suci Al-Qur’an. Al-Qur’an menjelaskan Fir’aun dengan begitu gamblang dan detail. Fir’aun dalam Al-Qur’an dilukiskan sebagai sosok penguasa yang zalim dan kejam. Jabatan kepemimpinannya dimanfaatkan untuk melanggengkan berbagai kebijakan penuh penindasan dan kesewenang-wenangan terhadap rakyatnya (bani Israel).

Baca juga:   Pentingnya Mempelajari Nahu dan Saraf

Sebagai sosok pemimpin, ia sangat jauh dari kesan ramah, humanis, dan memberdayakan rakyat. Kegelimangan harta dan kenikmatan duniawi yang dimiliki hanya diperuntukkan untuk hadun nafsi (mementingkan diri sendiri). Salah satunya, membangun istana megah. Sebagai perwujudan menebalkan garis demarkasi dengan siapaun. Dirinya mengklaim harus “berjaya seorang diri”. Tidak boleh ada entitas lain yang sederajat, apalagi menyainginya. Lebih parah lagi, ia mengumumkan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah oleh semua rakyatnya.

Baca juga:   Arti Takjil yang Sesungguhnya

Melihat situasi sudah sangat parah. Bahwa seorang hamba berlagak melebihi kodratnya sebagai hamba. Allah Swt kemudian mengutus Nabi Musa untuk membawa misi perubahan melawan otoritarianisme dan kemusyrikan menuju pada tatanan pembebasan sosial dan penuh ketauhidan. Dengan bekal membawa bukti keterangan-Nya yang nyata, para umat bani Israil berhasil dibujuk untuk mengikuti ajarannya. Namun, saat berdakwah mengambil hati Fir’aun untuk beriman pada Tuhan (Allah Swt), acap kali menemui kebuntuan. Fir’aun masih bersikukuh pada pengklaiman dirinya sebagai Tuhan.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan