Ketika Dokter Soetomo Berbicara Tentang Pesantren

284 kali dibaca

“Sekolah-sekolah pemerintah (kolonial) hanya menghasilkan pegawai, dan hanya ditujukan untuk mengasah otak saja, serta menciptakan manusia-manusia yang hanya memusatkan perhatian pada diri sendiri (egoistik) dan yang saling bersaing untuk mendapat  secupak nasi”– Pidato Dokter Soetomo dalam Kongres Pendidikan Nasional Pertama pada 1935.

Dokter Soetomo lazim dikenal sebagai pendiri organisasi Boedi Oetomo, salah satu organisasi pergerakan nasional pertama Indonesia pra-kemerdekaan. Harum namanya begitu teringat di benak para pelajar di Indonesia, setidaknya mengingatkan pada Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati tiap tanggal 20 Mei. Di bawah kuasa Bung Karno, pada tahun 1948, ditetapkan kelahiran organisasi Boedi Oetomo sebagai Hari Bangkitnya Nasionalisme Indonesia. Lalu diperbarui melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 menjadi Hari Kebangkitan Nasional.

Advertisements

Pendidikan Lahir dan Batin

Baca juga:   CATATAN 2th DUNIASANTRI: SETELAH HARI INI…

Menukil Ahmad Baso, dalam suatu adu gagasan kebudayaan yang berkisar pada tahun 1930-an yang dikenal dengan “Polemik Kebudayaan”, Dokter Soetomo dan Ki Hajar Dewantara tampil membela pesantren di tengah serangan para pendukung sekolah kolonial.

Di satu kubu, pendukung sekolah modern kolonial, para pejabat kolonial dan intelektualnya, seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Sutan Sjahrir, Armin Pane, dan kelompok Pujangga Baru, mengampanyekan pencerdasan anak-anak bangsa melalui sekolah sekolah modern untuk mencintai pemerintah kolonial.

Baca juga:   Pesantren sebagai Penjaga Bahasa Daerah (Sunda)

Pada tahun 1930-an, di tengah gempuran gagasan Eropa sentris yang dibawa oleh pemerintah kolonial begitu mewarnai kancah pemikiran perihal kebudayaan di Tanah Air. Bagaimana tidak, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) melalui esainya yang bertajuk “Didikan Barat dan Didikan Pesantren: Menuju ke Masyarakat yang Dinamis” menganggap pendidikan harus dijauhkan dari pesantren. Alasannya, pendidikan pesantren memuat anti-intelektualisme, anti-individualisme, anti-egoisme, anti-materialistik”.

Pernyataan sarkastik STA begitu menampar gagasan Soetomo yang mendukung arus pesantren sebagai model pendidikan Indonesia. Bahkan, dengan kerasnya, STA mengatakan jika persatuan yang berpusat pada kiai dan pesantren menjadi penyebab atas jatuhnya bangsa ini.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan