Kenapa Harus Aswaja

Menyikapi banyaknya kelompok yang berseberangan dengan ajaran yang sudah berkembang, seperti paham-paham Jabriyah, Qadariyah, Murjiah, Mu’tazilah, maka ia memandang salah pemikiran tersebut dan harus segera dihilangkan (hal. 57-58).

Para ulama NU rata-rata mengikuti paham ini karena bagi mereka kelompok ini adalah termasuk kelompok yang najiah (selamat). Para ulama dan mayoritas umat muslim waktu itu banyak yang menyetujui fatwa Imam Al-Asy’ari ini. Sehingga, kelompok-kelompok yang tadinya terlihat menyimpang secara berangsur-angsur menghilang. Bahkan bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Bahkan sampai hari ini, Aswaja tetap diakui oleh mayoritas kaum muslimin sebagai paham yang benar sesuai dengan ajaran yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Secara institusional mungkin kaum muslimin sudah tidak berhadapan dengan kelompok sempalan seperti di atas. Bukan berarti tantangan terhadap kaum muslimin masa kini tidak ada. Kelompok seperti di atas jelas sudah tidak ada di Indonesia, tapi ajarannya sepertinya masih berkembang. Munculnya kelompok-kelompok yang suka mengkafir-kafirkan, mem-bidah-bidah-kan, dan mensyirik-syirikan kelompok lain yang berbeda pemahaman dengan mereka justru mulai marak terjadi di Indonesia. Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam dimanfaatkan oleh mereka untuk menjual proyek-proyeknya yang sudah jelas tidak laku di kawasan lain.

Baca Juga:   Dari Teologi Individual Menuju Teologi Sosial

Sebagai konsekuensinya, NU juga tidak luput dari sasaran mereka. Kiai-kiai NU tidak henti-hentinya di-bully. Padahal kalau mereka mau dewasa, sebaiknya tidak melakukan itu kalau mau mengatakan bahwa mereka adalah penerus Nabi.

Melalui kehadiran bukunya ini, Kiai Hasyim selalu mengingatkan kita agar bersatu dalam rumah yang baik ini, yaitu NU. Kita harus bertanya kepada guru-guru yang sedari dulu mengajari kita apa itu ilmu dan pentingnya ilmu. Bukan malah berguru kepada orang baru yang sedikit-sedikit berbicara kembali pada Al-Quran dan hadis. Padahal, perbuatan mereka belum tentu mencerminkan apa yang disampaikan. Dengan demikian, bertambah besarlah bayangan-bayangan sehingga orang-orang yang tidak menerima taufik dan hidayah Allah akan tertarik oleh gerakan mereka (hal. 20).

Tinggalkan Balasan