Kasak-kusuk Malam Hari

100 kali dibaca

Akhir-akhir ini Desa Suka Makmur sering dimasuki oleh maling. Padahal jelas sudah ada papan pengumuman di perbatasan desa yang bertuliskan: “Pemulung dan Pencuri Dilarang Masuk ke Desa Suka Makmur”.

Entah karena tak bisa baca tulisan yang di pasang warga itu atau karena memang tak acuh, terjumlah sampai sekarang ada empat rumah yang sudah disatroni pencuri. Ada yang kehilangan televisi, uang, bahkan emas simpanan juga lenyap digasak oleh maling.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Hal itu mengakibatkan Pak Gugun, sebagai kepala desa, menghimbau warganya untuk mengaktifkan kembali ronda malam. Sudah lama kegiatan berjaga-jaga di malam hari itu tak dilakukan karena tak ada lagi warga yang mengapresiasi seperti, memberi minuman, makanan ringan, dan memberi beberapa obat nyamuk. Jadi, warga semakin enggan untuk ronda malam.

Malam ini, ronda malam mulai diaktifkan kembali. Jadwal sudah disusun sendiri oleh Pak Gugun sesuai dengan hari. Untuk hari pertama ini ada tiga orang yang bertugas, Pak Memed, Pak Udin, dan pak kepala desa itu sendiri.

“Pak, ini ada ada kopi. Silakan, diminum dulu,” kata Pak Memed yang baru saja datang berikut dengan teko dan seplastik makanan di tangannya.

“Kamu ini. Yang lain sudah di sini, kamu baru datang,” omel Pak Gugun setelah menyadari keterlambatan Pak Memed yang tidak sesuai dengan jam yang ada di jadwal ronda.

“Maaf, Pak. Tapi, kan, aku bawa minuman dan gorengan ini.” Lengkungan sempurna di wajah Pak Memed sebagai senjata pemungkas lelaki itu untuk menarik perhatian Pak Gugun.

Sogokan dari Pak Memed yang terlihat menggiurkan, sukses membuat kedua lelaki yang sudah berada di pos ronda terlebih dahulu itu memaafkan keterlambatannya.

“Ya, ayok. Kita makan sama-sama ini,” timpal Pak Udin yang sudah tak sabar mau mengambil bakwan, makanan kesukaannya.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan