Islam Nusantara sebagai Antitesis Ideologi Transnasional

Lagi-lagi, masyarakat kita yang plural ini menghadapi ancaman besar. Sebut saja ideologi transnasional. Adalah gerakan politik yang seringkali menggunakan agama sebagai basis gerakannya. Tentu, Islam yang saat ini menjadi primadonanya, lalu dimanfaatkan oleh berbagai pihak dalam menggali keuntungan. Cara berpikir kelompok ini, jika segala sesuatu bertentangan dengan Islam yang mereka yakini, entah di ranah fikih, politik, ataupun budaya, maka akan dibabat habis-habisan dengan berbagai cara, termasuk dengan kekerasan dan terorisme.

Efeknya, banyak terjadi islamofobia di berbagai kawasan. Termasuk, yang paling parah di Amerika Serikat dan Eropa. Padahal, seorang Muslim yang bersungguh-sungguh menghayati Islamnya, menjadi tertekan akibat kelakuan buruk oknum itu. Islam lalu dicibir sebagai agamanya teroris, hingga pemeluknya yang benar-benar saleh —tidak melakukan kekerasan—turut mengalami diskriminasi.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Jelas, Islam tidak salah. Melainkan para oknum itu yang menyalahgunakannya. Kiwari, harus bisa membedakan mana ajaran Islam yang hakiki, dan mana ajaran Islam yang dipropagandakan untuk kepentingan kelompok tertentu. Sehingga tidak masuk ke jebakan tikus.

Baca Juga:   Sains dan Agama sebagai Sarana Menuju Dunia Luar

Indonesia rawan akan hal itu. Menjadi negara Muslim terbesar di dunia, secara pasti menjadi target utama dari ‘dakwahnya’ aktivis ideologi Islam transnasional. Bukti yang nampak, dalam dekade terakhir, banyak orang yang menjadi radikal hanya gara-gara melihat kampanye Islam transnasional di media sosial. Oknum tersebut mendesain konten sedemikian rupa, seakan-akan apa yang ia kampanyekan adalah sebenar-benarnya Islam —padahal Islam bukan seperti itu. Banyak masyarakat yang tertipu.

Usut diusut, faktor utama perilaku masyarakat menjadi seperti itu karena kurang paham dan minim literasi. Mereka tidak tahu, sekira mana ajaran Islam yang sesungguh-sungguhnya rahmatal lil ‘alamin. Padahal, kali pertama para Wali Songo dan apa yang kiai ajarkan selama ini, ialah Islam yang mampu bergandengan tangan dengan budaya dan kearifan lokal. Bukan malah mengkafir-bidahkan.

Baca Juga:   “Wisuda Covid-19” a la Santri Blokagung

Islam Nusantara sebagai Alternatif   

Perbedaan yang mencolok dari ideologi Islam transnasional adalah penolakan tegasnya terhadap keberagamaan, termasuk dalam daulah (kekuasaan). Mereka sangat menghendaki berdirinya pemerintahan dengan latar Islam —sesuai dengan Islam yang mereka pahami. Sehingga ketika masyarakat masuk ke lingkaran tersebut, hanya diberi dua pilihan: tetap dianggap sebagai Muslim dengan mendirikan kekhilafahan, atau dicap kafir ketika masih keukeuh mempertahankan negara Pancasila ini. Benar, mereka menolak pilihan untuk menjadi Islamis sekaligus Indonesianis.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

2 Replies to “Islam Nusantara sebagai Antitesis Ideologi Transnasional”

Tinggalkan Balasan