Hilangnya Guru Ngaji

98 kali dibaca

“Bagaimana ini, kotak amal kita hilang? Ke mana Agus? Atau jangan-jangan dia yang mengambilnya tadi malam?” Sukidi menceracau setelah mengetahui kotak amal musala Ar-Rahman terbongkar, isinya raib.

“Sabar dulu, kita tak boleh menuduh orang begitu saja,” ucap Pak Kasdi sebagai ketua RT setempat, menenangkan Sukidi.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Tak ada yang tahu kejadian semalam. Subuh ini setelah salat berjemaah, Sukidi melihat kotak amal terbuka begitu saja. Sebab itu, dia mendekati kotak persegi yang berwarna hijau itu. Dia tampak terkejut saat mendapati isi dari kotak itu sudah amblas tak tersisa sedikit pun.

Kebetulan yang masih berada di sana hanya Pak Kasdi. Lelaki bertubuh gempal itu pun mendatangi Sukidi, lantas memindai barang itu dengan teliti dari berbagai arah. Lelaki yang dikenal bijaksana itu berpikir siapa yang bisa dan berani membobol kotak itu.

“Agus kemarin sudah izin kepada saya. Dia ada tugas kuliah sehingga mengharuskan bermalam di tempat temannya. Jadi, dijaga itu mulutmu.” Pak Kasdi memberitahukan tentang keberadaan Agus.
Sukidi yang dari awal sudah tidak suka dengan Agus memonyongkan bibirnya beberapa sentimeter. Sebab, Agus selalu dibela oleh Pak RT dan menjadi kesayangannya. Berbeda dengan Sukidi yang selalu dianggap salah setiap pekerjaannya oleh Pak Kasdi.

“Ya, sudah nanti perbaiki gemboknya ini. Ini uang untuk beli gembok baru lagi,” titah lelaki yang baju kemeja pendek warna biru itu, seraya memberikan selembar uang berwarna merah dan berlalu menyisakan Sukidi.

***
Saat Agus mulai bertugas sebagai takmir di musala, banyak anak-anak yang dengan senang hati mengaji di sana. Bagaimana tidak? Setiap anak belajar membaca Al-Quran pasti selalu diberinya makanan ringan kesukaan mereka. Sesekali diberi uang ketika dia sedang ada berlebih. Mereka pun mengajak teman-temannya yang lain untuk mengaji bersama, sehingga semakin hari murid di musala Ar-Rahman pun semakin banyak.

Sebagai seorang mahasiswa, Agus terkadang absen mengajar Al-Quran di sana, karena tugas-tugas yang harus diselesaikan. Sebagai gantinya Sukidi yang mengajari anak-anak itu. Hal itu menyebabkan murid-murid malas, karena guru yang dicintainya tidak ada. Mereka hanya mau dan semangat saat Agus yang mengajar. Sebab itu juga, Sukidi semakin tak menyukai Agus.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan