duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Hikayat Amplop Kosong

Terik matahari menampar-nampar wajahku. Langkahku pun mulai terasa gontai. Leleran keringat telah membasahi pakaian lusuh yang kukenakan. Aku berhenti sejenak di depan sebuah toko kecil. Kurogoh dompet di saku celanaku. Masih ada beberapa lembar lagi. Hari ini lembaran-lembaran itu tidak boleh kubelanjakan semua agar esok masih bisa makan. Aku putuskan untuk mengambil selembar uang bergambar pahlawan membawa pedang untuk membeli beberapa helai amplop di toko yang tampak sepi itu.

Baca Juga:   Santri dan Ilmu Kanuragan

Pelan kuayunkan langkah kaki menapaki jalan beraspal yang menguarkan hawa panas. Sambil berjalan kulipat selembar amplop lantas kumasukkan ke dalam amplop yang lain. Amplop itu kini tampak menggembung.

Advertisements
Cak Tarno

Tersenyum bibirku membayangkan rencanaku nanti. Rencana ini kulakukan setelah mendengar pembicaraan orang-orang di warung kopi utara pasar tentang pesta yang digelar tidak jauh di depan sana, tempat di mana terdengar suara dangdut koplo mengentak-entak itu. Pandemi yang berkepanjangan ternyata tak memupus keinginan warga kota ini untuk tetap merayakan pesta.

Baca Juga:   Bau Amis Laut

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan