Hati yang Risau

Aku hanya mampu menikmati kepedihan yang terus menggerogoti sekujur kebahagiaan. Pun, aku tidak tahu harus merengek pada siapa, harus berkeluh pada siapa, harus merintih pada siapa. Perih sekali. Perut yang terasa mual dan melilit menjalar ke ulu hati menyayat-nyayat bagai sembilu.

Siapa pula yang menginginkan janin ini tumbuh disana? Aku tak pernah bisa untuk mengalami apa yang telah terjadi. Apa salahku Tuhan? Begitu kejam semesta padaku. Aku hanyalah gadis 19 tahun. Tak sekalipun pernah menjamah lelaki. Lantas mengapa hukuman seberat ini harus kutanggung? Aku mengutuk hidupku sendiri sebab hal yang sama sekali tak kuingini.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Malam-malam dingin terus menyelimuti segala kesakitan batin dan badanku. Perut yang kian hari kian menonjol membuat otakku kacau balau memikirkan ribuan cara untuk menutupinya. Belum lagi ocehan orang yang semakin merebak sampai ke desa sebelah. Ini bagaikan bau bangkai yang aromanya menyebar ke mana-mana. Sangat mengusik seluruh perasaanku.

Baca Juga:   Kuadrat

Ya, semua ini terjadi sebab dia. Sepupu yang selalu kukagumi sebab memang tidak dimungkiri lagi bahwa dia adalah idaman banyak wanita. Namun itu semua kini bertarung dalam hati dan otakku; dia orang baik yang telah menghancurkan hidupku. Apa benar hidupku hancur? Duh, Gusti.

Mas Arjun, Ahmad Arjuna Bagaskara. Seorang santri yang amat tersohor seantero pondok. Ya, kami dimasukkan satu pondok oleh almarhum Pakde Giyo, ayah dari Mas Arjun. Dengan otak encer yang dia miliki membuatnya menjadi orang berprestasi di berbagai bidang. Belum lagi rupanya yang good looking, ia makin digemari seluruh santri apalagi santri putri. Tidak hanya sampai di sana, suaranya yang merdu nan elok menjadikannya vokalis andalan pondok. Mas Arjun memang nyaris sempurna, pria baik dalam akhlaknya serta baik dalam ibadahnya. Tidak mungkin semua ini nyata, tidak mungkin Mas Arjun melakukan itu semua padaku.

Sore itu, sepuluh hari setelah kepergian ayahnya, masih sangat terlihat dengan jelas keterpurukan dalam diri Mas Arjun. Betapa sangat kehilangan sosok orangtua yang membesarkan anak semata wayangnya sendirian sejak Mas Arjun dilahirkan. Ya, ibunya mengembuskan napas terakhir bersamaan dengan tangisan Mas Arjun kecil. Kehidupan mereka berdua sangat bahagia. Pakde sangat menyayangi anak bujangnya itu. Sampai waktu di mana Pakde sakit-sakitan hingga terlilit banyak utang, di sana kehidupan mereka sangat berbanding terbalik dari sebelumnya. Mas Arjun yang mengabdikan diri pada Kiai Umam diharuskan berhenti dan meninggalkan pondok demi baktinya pada ayah tercinta. Dia yang setiap hari harus banting tulang untuk membelikan obat serta makan sehari-hari semakin merana.

Baca Juga:   Manuskrip Kuno Keislaman Gresik Didigitalisasi

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan