Belajar Politik dari Imam al-Ghazali

Menghitung nikmat Tuhan tentu tidak akan pernah menemukan ujung. Maka dari itu, di antara banyaknya nikman-Nya, salah satunya adalah menjadi pemimpin yang adil. Jabatan pemimpin ibaratnya sebuah payung Tuhan di Bumi. Seorang pemimpin akan disegani dan dihormati oleh rakyatnya jika berlaku kebajikan. Dan akan dibenci bila pemimpin tidak sesuai dengan apa yang diharapkan rakyat.

Maka kata “benci” menjadi olok-olok yang akan kerap disandangkan dan terus diingat sampai pemimpin (yang bersangkutan) menghadap Tuhan. Dia akan dicap sesuai dengan perbuatannya. Oleh karenanya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang segala orientasinya sepenuhnya dialamatkan kepada rakyat, bukan untuk sanak keluarga sendiri.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Agar dihargai, maka pemimpin harus berlaku adil seadil-adilnya terhadap rakyat. Dan sepatutnya pemimpin berlaku demikian, lebih dekat kepada rakyat. Sebab, jika tidak demikian dia akan dilaknat oleh Tuhan karena tidak menjadi khalifah yang baik di Bumi, lebih khusus bagi rakyatnya. Apalagi setiap harapan rakyat pasti dan memang (hanya) ingin mendapat perlakuan yang baik.

Baca Juga:   Mengenang Baju Koko Pak Kiai

Kepemimpinan akan menjadi semakin urgen setelah mematangkan prioritas atau terget di masa kepemimpinannya. Mengembangkan Sumber Daya Manusia dan pembangunan secara umum haruslah menjadi program prioritas demi kemaslahatan bersama.

Oleh karenanya, kezaliman atau yang biasa kita kenal dengan istilah“korupsi” tidak boleh terjadi. Dalam kepemimpinan, diperlukan ketegasan dan kebijakan seorang pemimpin untuk mengarahkan orang-orang bawahan agar melakukan pekerjaan sesuai job discription-nya, dan  dapat memastikan tidak akan ada penyelewengan dari bawahan. Karena, jika bawahan melenceng dari pekerjaan semestinya, maka yang akan tertimpa jatuh tangganya adalah pemimpin. Sebab dinilai tidak becus dalam memimpin bawahannya.

Baca Juga:   Lapis Cinta Jalaluddin Rumi

Nyatanya apa yang terjadi sekarang sudah terjadi di masa lampau, seperti yang dikisahkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya berjudul al-Tibr al-Masbuk fi Nasihat al-Milk. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi sebuah buku yang berjudul Adab Berpolitik, Nasihat dan Hikayat untuk Pemimpin dan Penguasa.

Tinggalkan Balasan