Pesantrennya Salafiyah, Santrinya Multitalenta

Dilihat dari standar kekinian, pondok pesantren ini bisa dibilang sangat salafiyah, tradisional. Namun, spiritnya justru untuk melahirkan generasi santri multitalenta.

Didirikan oleh KH Toip Aljauhari pada 1997, pondok pesantren yang berada di Desa Ciomas, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Banten, ini tak memiliki nama resmi. Ia dikenal dengan nama Pondok Pesantren Salafiyah Cidanghiyang karena dua hal. Sematan nama “Salafiyah” karena memang pesantren ini menerapkan sistem salaf total. Sedangkan, Cidanghiyang merujuk pada nama kampung di mana pondok ini dibangun.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Sejak awal, KH Toip Aljauhari memang meniatkan pondok yang dibangunnya sebagai pesantren salaf, benar-benar salaf. Tak ada lembaga resmi yang menaunginya, semisal yayasan. Pun, tak ada program pendidikan formal diselenggarakan di pesantren ini, semisal madrasah ibtidaiyah (MI) atau tsanawiyah (Mts) dan aliyah (MA). Juga tak ada sistem diniyah.

Baca Juga:   Potret Pesantren Mandiri (6): At Tahdzib Jombang

Bahkan, salah satu syarat untuk bisa diterima di pesantren ini calon santrinya tidak boleh “nyambi” belajar di sekolah formal. Harus total mondok, full ngaji, ngaji kitab kuning —seperti tradisi pondok pesantren tempo dulu.

Dengan begitu, pondok pesantren ini bertekad mempertahankan prinsip, tradisi, dan ajaran-ajaran pesantren salafiyah murni. Karena itu, dalam kegiatan mengaji di Pondok Pesantren Salafiyah Cidanghiyang ini dibagi ke dalam tiga model kegiatan, yaitu balagan, pasaran, dan sorogan. Kitab-kitab yang dipelajari di antaranya Fathul Mu’in, Alfiyah, Tafsir Jalalen, dan kitab-kitab kuning lainnya.

Baca Juga:   Santri dan Jurang Media Sosial

Meskipun menjalankan sistem salafiyah murni, namun Pondok Pesantren Salafiyah Cidanghiyang ini dikelola dengan baik, dengan cara-cara modern. Ini memang sesuai dengan tujuan awal pendiriannya. KH Thoif al Jauhari ingin mengembangkan pesantren salafiyah sekaligus memperbaiki citra pondok salaf yang dianggap ketinggalan zaman, jumud, kumuh,  kotor, dan tidak tertata rapih.

Tinggalkan Balasan