Edy Mulyadi dan Lain-lainnya

220 kali dibaca

Bahasa itu juga soal rasa. Dan rasa dibangun oleh suasana. Suasana bisa berupa konteks, bisa berupa relasi hal ihwal.

Bagi seorang Edy Mulyadi dan lain-lainnya, ungkapan “tempat jin buang anak” mungkin hal biasa. Sebagai bahan guyonan sambil cengengesan. Tapi bagi orang-orang lain, dalam konteks dan relasi hal ihwal yang berbeda, ungkapan itu bisa berarti penistaan, bisa berarti penghinaan, bisa berarti olok-olok.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Ketika saya memanggil seorang kawan dekat dari Jawa Timur dengan teriakan “Hei, asu…,” itu bisa menjadi ungkapan tanda keakraban. Tapi ketika panggilan yang sama saya tujukan kepada orang asing, itu tandanya saya sedang menabuh genderang perang.

Jangan berlindung di balik peribahasa “lubuk hati siapa tahu”. Dengan konteks dan relasi hal ihwal, isi hati orang masih bisa dibaca, diraba, diterka: bahasamu akan menunjukkan siapa dirimu.

Ungkapan-ungkapan Edy Mulyadi, orang yang selalu disebut-sebut sebagai wartawan senior (saya masih ambigu dengan arti istilah ini: wartawan yang sudah tua atau wartawan profesional dengan jam terbang cukup lama), harus ditempatkan pada konteks dan relasi hal ihwalnya untuk memahami kenapa bisa menimbulkan kegaduhan, juga kemarahan.

Konteks dan relasi hal ihwalnya adalah isu pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur. Pro-kontra, setuju-tak setuju atas keputusan pemerintah untuk memindahkan ibu kota negara adalah perkara lumrah dalam alam demokrasi. Dan Edy Mulyadi menjadi bagian dari yang kontra. Hal itu sah dan dilindungi konstitusi.

Tapi yang jadi persoalan adalah cara pengungkapan penolakannya. Dari rekaman video yang diunggah di kanal Youtube miliknya pada 18 Januari 2022, masih menyisakan pertanyaan, sebenarnya apa yang ditolak? Pemindahan ibu kota negara atau tempat yang akan dijadikan ibu kota negara? Jika yang pertama yang ditolak, berarti ibu kota negara harus tetap di DKI Jakarta. Jika yang kedua, berarti setuju  ibu kota negara dipindah, tapi jangan di Kalimantan. Mungkin keduanya. Tapi dari situlah masalah bermula.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan