Sudahkah Pesantren Mencerdaskan Santrinya?

457 kali dibaca

Tujuan berdirinya pesantren sebagai lembaga pendidikan tidaklah berbeda dengan tujuan pendidikan yang telah dirancangkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Berdasarkan UU tersebut, tujuan pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani, dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Kata kunci dari tujuan pendidikan yang telah disebutkan tadi adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Jika semua pelajar memiliki kecerdasan, maka bisa dianggap proses pendidikan yang dilakukan berjalan sesuai dengan tujuan yang ada.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Akan tetapi, timbul pertanyaan, apakah pendidikan di pesantren sudah mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya para santrinya? Pertanyaan itulah yang menjadi pokok permasalahan yang perlu ditinjau oleh lembaga pendidikan seperti pesantren yang metode pendidikannya beragam jenis. Ada pesantren yang memfokuskan santrinya mengkaji kitab-kitab klasik, ada juga yang hanya menghafal Al-Qur’an. Ada juga yang bermodel salaf dan ada pula yang modern.

Disusul dengan pertanyaan, manakah model pendidikan pesantren yang paling benar dan dapat mencerdaskan santrinya?

Jika tolok ukur lembaga pendidikan dilihat dari keberhasilan mencerdaskan muridnya, maka persentase lembaga yang paling banyak mencerdaskan muridnya adalah lembaga yang berhasil memenuhi tujuan pendidikan di Indonesia. Lalu, Apakah saat ini lembaga pendidikan pesantren sudah mendorong penuh kecerdasan santri yang berbeda-beda itu?

Untuk itu perlu dielaborasi dulu apa yang dimaksud dengan kecerdasan. Membahas tentang kecerdasan, seorang pakar psikologi asal Amerika Serikat Howard  Gardner dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, mengemukakan bahwa setiap manusia dilahirkan memiliki 8 kecerdasan dan disempurnakan lagi menjadi 9 kecerdasan.

Gardner juga berpendapat bahwa kecerdasan tidak dapat dilihat dari skor ujian saja dan tidak juga dapat dihitung dengan angka. Konsep kecerdasan Gardner ini mengubah banyak penilaian yang keliru tentang siapa sebenarnya orang yang cerdas. Apakah kesembilan konsep itu? Dan bagaimana seharusnya pesantren memberikan ruang kepada santrinya untuk melatih kecerdasan tersebut?

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan