DONGENG MENOLAK MATI

DONGENG

Selain matahari yang kerap tergelincir
Aku melihat ada ribuan mulut
sering mengutuk takdir

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Selain kesempatan yang kerap hilang
Aku merasakan sebuah janji
yang bermain-main di balik ilalang.

Selain laut yang luas tak bertepi
Aku menyaksikan sendiri
ribuan orang membakar diri
dengan keinginan yang berapi-api
semua dibeli demi harga diri.

Selain tanah luas tak berpenghuni
Aku mengintip dari kedalaman sepi
banyak hati yang lapang
tapi padat iri dan benci.

Padahal mereka itu
ialah para ahli ilmu.

Baca Juga:   Atas Nama Kebencian

Dari jauh melambai-lambai
sambil berteriak: “Inilah
dongeng yang menolak mati”

Tulungagung, 2020.

 ASMARA YANG FANA

Tidak hanya pena yang fana
di ruang asrama, tapi juga asmara
Barangsiapa sengaja lupa
bersiaplah terima luka.

Tidak hanya sepasang sandal bakal hilang
di halaman masjid, tapi juga iman
Barangsiapa menyia-nyiakan kesempatan
bersiaplah terima kehilangan.

Tidak hanya wirid dan ijazah yang harus dibaca
Sepanjang musim dan cuaca, tapi juga rasa percaya.
Barangsiapa meninggalkannya
buatlah muara bagi air mata.

Tidak hanya istikamah yang harus dijaga
dalam mempelajari ilmu-ilmu dunia
dan akhirat. Barangsiapa selalu sambat
siapkan ruang bagi beban nan berat.

Baca Juga:   MATA YANG KEHILANGAN

Tidak hanya nafsu yang harus ditahan
terhadap hasrat dan keinginan
barangsiapa rentan menurutinya
bersiaplah tenggelam dalam sengsara.

Tulungagung, 2020.

BELAJAR BAHASA

Penyair memeras segala peristiwa
menjadi tinta ke dalam kata-kata
dengan bahasa sederhana
agar mudah dibaca
siapa saja.

Seperti Al kitab yang mampu bercerita
Tanpa ada salah: titik dan koma.

Tentang awal mula alam raya

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan