Tukang Sayur dan Impiannya

Sepersekian detik kemudian, Bagas menepuk pundakku, “Sabar ya, Mas, masih ada tahun depan, kok,” katanya menguatkanku.

Sudah kuduga hasilnya tidak sesuai harapan. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan balik hasil ujiannya. Kulihat dia tenang-tenang saja sedari tadi. Terlintas dalam benakku bahwa Bagas telah dinyatakan lolos. Kalau pun benar, aku harus berlapang dada, tanpa rasa iri.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Kalau aku sih jelas nggak lolos, Mas. Ya tapi enggak apa-apa, soalnya kemarin bapak sudah ngomong sama Pak Camat, buat nawarin aku kerja di kantor kecamatan,” tandasnya.

Baca Juga:   Yang Terhormat Pak RT

Entah mengapa perkataan Bagas membuat ulu hatiku nyeri. Nyeri sekali. Sesaat kemudian, aku teringat gerobak sayurku yang barangkali sudah berdebu karena lama tidak dipakai jualan. Esok akan kubersihkan.

Pacitan, November 2021.

Tinggalkan Balasan