Tukang Sayur dan Impiannya

“Anakku kemarin katanya mau ikut CPNS tahun ini. Doain ya semuanya, semoga anakku berhasil,” Bu Wati memulai pembicaraan sembari membandingkan beberapa ikat kangkung untuk dipilih mana yang lebih besar ikatannya. Kemudian, disambut ibu-ibu lainnya dengan mengamininya. Tiba-tiba, Bu Dian menyenggol lenganku.

“Mas Fahmi enggak ikut tes CPNS juga? Sayang, loh, ijazahnya kalau cuma disimpan di lemari,” celetuknya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Perkataan Bu Dian membuatku tercekat. Aku masih diam, seolah tak peduli dengan apa yang sedang diperbincangkan. Tetapi, dalam hati aku mulai memikirkan perkataannya. Sementara Bagas, anak Bu Wati, saja ikut melamar CPNS, masa aku enggak? Sebenarnya tak heran kalau Bagas ikut melamar CPNS, apalagi notabene dia adalah anak Pak Lurah. Tentu orangtuanya menginginkan anaknya menjadi orang yang lebih sukses daripada dirinya, termasuk pegawai negeri.

Baca Juga:   Suara dari Langit

Aku mengenal Bagas sedari kecil, karena memang kami satu angkatan sejak SD. Namun, Bagas selalu lebih beruntung daripada aku. Bagas sudah kaya sejak lahir, sedangkan aku hanya anak petani biasa. Tidak hanya masalah materi, dalam hal percintaan pun Bagas selalu mengungguliku. Maya, perempuan idaman yang sudah aku incar sejak SMA, dlebih memilih Bagas daripada aku. Alasannya karena Bagas dinilai lebih pintar, sedangkan aku tidak pintar, tetapi juga tidak terlalu bodoh. Namun, tetap saja, posisiku masih di bawah Bagas.

Baca Juga:   Jalan Bagus

Setelah ibu-ibu tersebut selesai berbelanja, aku lanjut berkeliling ke tempat lainnya. Saat itu pula aku masih merenungkan kembali perkataan Bu Dian. Kupikir-pikir benar juga. Gelar sarjana ekonomi yang kudapat tahun lalu tidak berarti apa-apa kalau akhirnya hanya menjadi tukang sayur. Belum lagi penghasilannya tidak menentu. Kalau menjadi PNS, kan, bisa hidup enak dan ada jaminan pensiun untuk hari tua.

Tinggalkan Balasan