Tukang Sayur dan Impiannya

Suatu ketika akhirnya aku mencoba peruntungan dengan melamar CPNS. Usai seleksi administrasi dinyatakan lolos, berhari-hari aku memutuskan untuk berhenti jualan. Waktuku untuk persiapan menghadapi ujian SKD. Siang malam aku belajar. Terus belajar. Tak kenal waktu.

Saat ujian tiba, aku mengerjakan soal semampunya. Sisa dua menit, aku klik selesai, lantas nilai langsung muncul. Aku hanya catat begitu saja di kartu ujian. Aku tidak bisa berpikir lagi, kepalaku benar-benar pening. Tiba di luar ruangan, Bagas, yang kebetulan tes di hari yang sama denganku,  menanyakan nilaiku. Aku tidak banyak bicara, kuserahkan saja kartu ujian tadi padanya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Aku memijat-mijat kening untuk mengurangi rasa sakit. Beberapa saat kemudian, Bagas kembali membuka suara, “Sepertinya kamu harus banyak belajar lagi,” celetuknya usai mengamati nilai dalam kartu ujianku.

Baca Juga:   Ketemu Kiai Barseso di Wisma Pasar Daging

Rupanya ia telah menghitung nilaiku. Dari hasil analisanya, ternyata nilai tersebut belum mencapai passing grade. Aku melirik sebentar, benar saja, kemungkinan untuk lulus sangat berat. Aku bergeming sambil merenung. Dada terasa sesak. Agak berat di tengkuk belakang. Sebelum pulang, aku istirahat sejenak di tempat yang agak sepi sambil menyulut sebatang rokok.

Semenjak saat itu, pikiranku benar-benar kalut. Seiring berjalannya waktu, sembari menunggu pengumuman kelulusan, aku hanya terlunta-lunta di rumah. Bahkan, untuk berjualan sayur pun tidak ada hasrat sama sekali.

Baca Juga:   Musala Wak Ama

Ketika pengumuman tiba, aku sama sekali tidak bernafsu membuka akun SSCASN. Sebab, mustahil rasanya aku akan lulus. Saat itu pula, Bagas sedang bersamaku. Ia memaksaku untuk segera membuka pengumuman hasil SKD. Aku tidak mau. Bagas terus memaksa. Ia menawarkan diri untuk membuka akun SSCASN-ku melalui gawainya. Akhirnya, aku menyetujui dan memberinya akses.

Tinggalkan Balasan