Tradisi Ngaji Kilatan di Pesantren

Ramadan memang bulan yang ditunggu-tunggu umat Islam. Sebab, inilah bulan penuh kebaikan dan hanya datang satu kali dalam satu tahun. Banyak orang yang berlomba-lomba mencari kebaikan dalam bulan ini. Sebab, amal baik akan dilipatgandakan pahalanya, dan sebaliknya amal buruk juga akan dilipatgandakan dosanya.

Pada bulan Ramadan, salah satu tradisi yang telah mengakar dan dilestarikan secara turun-temurun dari tahun ke tahun adalah Ngaji Kilatan. Apa itu Ngaji Kilatan?

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Ngaji Kilatan adalah pelaksanaan mengaji kitab kuning dengan tempo singkat (kilat). Biasanya pondok pesantren melaksanakan Ngaji Kilatan ini selama 20 hari atau bahkan ada yang kurang atau lebih. Kitab yang dikaji juga dipilih dengan sedemikian rupa. Biasanya dipilih kitab yang bisa khatam selama kurun waktu yang telah ditentukan tersebut. Ada juga pesantren yang memilih kitab yang tebal untuk kemudian dilanjutkan pada tahun berikutnya jika tahun berjalan tidak bisa khatam.

Baca Juga:   Hubungan Santri dengan Kiai

Tradisi ini sangat khas bulan Ramadan. Tidak hanya diikuti oleh santri pada suatu pesantren tersebut, melainkan banyak santri luar pesantren yang mengikuti Ngaji Kilatan di suatu pesantren. Bahkan ada juga remaja atau bahkan mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut dan tinggal di pesantren selama kurang lebih 20 hari. Tidak hanya mengikuti kegiatan mengaji, para santri juga mengikuti kegiatan lain yang ada di pesantren tersebut, seperti tarawih, tadarus, dan lain sebagainya.

Baca Juga:   Santri dan Kontroversi Karikatur Nabi

Tradisi ini memang sangat bagus untuk dilestarikan pada suatu pesantren. Sebab, trasdisi yang entah kapan diciptakan ini pada masa modern ini semakin berkembang dan jumlah peserta luar pesantren juga meningkat begitu pesat. Banyak yang berminat mengikuti kajian kilat ini selama Ramadan dan mengisi waktu luangnya untuk tinggal di pesantren.

Tinggalkan Balasan