duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Temali Tradisi Santri: Pesantren Arba’i Qohhar Jambangan

1.022 kali dibaca

DESA INI, Jambangan, berjarak enam kilometer dari titik nol ibu kota sebuah kabupaten yang menghubungkan Jawa Timur dan Jawa Tengah, dan hanya berjarak dua ratus meter dari stasiun kota. Stasiun ini -tanpa harus transit- terhubung dengan kota-kota besar seperti Solo, Yogyakarta, Bandung, juga Cirebon dan Jakarta. Ke timur, terhubung dengan Surabaya, Kediri, Malang, dan Jember-Banyuwangi di ujung timur Jawa. Relnya menjadi pembatas dengan salah satu desa tetangga di sisi utara. Kereta yang melintas hilir-mudik membawa beragam jenis orang dan kepentingan, juga profesi dan status sosial.

Pintu keluar-masuk tol yang terhubung dengan Solo–Semarang, hingga Jakarta ke arah barat, dan Surabaya-Malang hingga Banyuwangi ke arah timur, hanya berjarak tiga kilometer. Proyek jalan tol ini belum paripurna, memang. Namun geliatnya mulai terasa. Harga tanah mulai melambung tinggi. Proyek perumahan dan berbagai jenis bangunan megah mulai menjamur, dalam radius beberapa puluh atau ratus meter dari pintu keluar-masuk tol.

Satu kilometer dari titik nol desa ini, ke arah timur laut, terdapat pasar kecamatan yang mulai beraktivitas setelah matahari menaik, bersamaan dengan jam berangkat sekolah atau bekerja ke sawah atau ke kantor. Di pasar ini, banyak dijumpai dokar yang parkir berjejer menunggu penumpang, dan agaknya masih menjadi moda transportasi favorit bagi orang-orang yang belanja di pasar. Selain barang pecah belah, sayur-mayur dan bumbu dapur, sebagian kios di pasar ini menjual pakaian jadi bermerek lokal.

Baca Juga:   Tamu Tengah Malam: Tradisi Silaturrahmi Santri

Bus-bus kecil melintasi desa dalam interval waktu tertentu, menghubungkan kecamatan satu dengan lainnya, hingga yang terpencil di kaki gunung Lawu. Penumpangnya tak seramai dulu, sebelum tiga-empat tahun yang lalu, sehingga volume bus kian berkurang. Dan, beberapa hanya dinakhodai seorang sopir, tanpa kenek. Namun, ada yang masih bertahan dengan sopir dan kenek. Seberapa pun uang yang didapat, dinikmati bersama -mirip shared poverty ala Clifford Geertz. Para pelajar berangkat ke sekolah naik bus ini, sebagian masih bersepeda. Sedikit saja yang menggunakan kendaraan bermotor.

Ke utara, tak sampai sepuluh kilometer, kali Bengawan Solo, sungai terpanjang di Jawa, melintas membelah kota. Nama sungai ini abadi dalam sebuah lagu keroncong yang legendaris, oleh musisi kawakan asal Solo: Gesang. Di satu titik tikungnya, di tengah kota, sebuah benteng dibangun oleh Johannes Graaf van den Bosch di era Perang Diponegoro. Kota ini memiliki fungsi strategis sebagai jantung jalur perdagangan. Sungai ini melintasi dua provinsi, Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan beberapa kabupaten –dari Wonogiri di hulu dan Gresik di bagian hilir. Karakteristik topografi Bengawan Solo menjadikannya tempat persemaian kehidupan purba. Dan, faktanya, di Trinil, fosil Pithecantropus Erectus – manusia Jawa purba- ditemukan oleh sarjana berkebangsaan Belanda: Marie Eugène François Thomas Dubois, tahun 1891. Fosil tersebut tersebut menjadi penanda kawasan ini merupakan salah satu pusat peradaban tertua di Nusantara.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan