duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Kiai Nur Hadi, Guru yang (Terus) Hidup

1.023 kali dibaca

SALAH SATU pengajar favorit sewaktu duduk di bangku sekolah di Perguruan Islam Mathali’ul Falah adalah Kiai Nur Hadi. Masyarakat sekitar menyebut pesantren yang berada di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ini dengan Mathole’ –dengan huruf tha dan ‘ain yang fasih. Kajen adalah sebuah desa yang dikelilingi oleh belasan pesantren dan sekolah formal. Beberapa tokoh besar pernah lahir di desa ini, seperti Kiai Sahal Mahfud atau pamannya, Kiai Abdullah Salam.

Selain menjadi guru di Mathale’, Kiai Nur Hadi adalah seorang pengasuh pesantren yang letaknya di depan makam seorang waliyullah bernama Syaikh Ahmad Mutamakkin. Sebagaimana para pengasuh pesantren di Desa Kajen, Kiai Nur Hadi adalah sosok yang menjalankan laku bersahaja. Rumahnya yang berada tepat di samping pesantren hanya berlantai batu bata, sebagian di-plester dan sebagian lainnya dibiarkan terbuka.

Baca Juga:   Lomba Vocal Group dan Nasyid di Pesantren Gontor

Jika kebetulan sowan ke ndalem Kiai Nur Hadi, kita tidak akan mendapati perabotan atau pernak-pernik yang mencolok atau mewah. Satu-satunya barang mewah di sana adalah deretan kita-kitab kuning. Di ruang tamu, di mana biasa tetamu sowan atau orang tua yang menjenguk anaknya yang sedang belajar, hanya ada meja kursi tua berwarna coklat yang pliturnya sudah memudar.

Kiai Nur Hadi mengasuh pesantren putra dan putri. Jumlah santrinya mencapai ratusan orang. Meski begitu, ia tetap hidup dengan penuh kesederhanaan. Satu waktu, saat hendak berkunjung ke rumah teman di daerah Juawana dengan menaiki kendaraan umum, saya terkejut sekali. Kiai Nur Hadi dan salah satu menantu laki-lakinya ternyata menjadi penumpang di bus yang sama yang saya naiki. Dengan usia lanjut dan posisi yang disandangnya, pantas kiranya jika menggunakan kendaraan pribadi.

Baca Juga:   Mbah Moen: Titik Terindah…

Beda Fikih Kaya-Miskin

Kiai Nur Hadi yang sehari-hari menggunakan sepeda onthel tua itu selalu mengajarkan takzim pada guru. Setiap kali melintasi makam Syaikh Mutamakkin yang berada tepat di depan rumahnya, Kiai Nur Hadi selalu turun dari sepeda dan membungkukkan badan. Itu dilakukan sebagai sebuah penghormatan pada Syaikh Ahmad Mutamakkin. Pada guru alim yang sudah berbeda alam saja, Kiai Nur Hadi memberikan teladan tentang adab, apalagi pada ulama yang masih hidup.

Laman: 1 2 3

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan