duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

LELAKI YANG BERDANDAN UNTUK TUHAN

Lelaki itu datang ketika suara azan lantang berkumandang, ketika orang-orang telah menyesaki ruang. Lelaki itu datang dengan tampang tak terbilang ketika orang-orang bertukar senyum berbagi ruang, bertukar cerita lewat baku pandang

Lelaki itu datang menuntun sepeda angin yang reyot, yang sering membuat repot tubuhnya yang peyot. Sebuah ransel menggantung di punggung, dan terasa seperti memanggul gunung. Pada tubuhnya yang keriput hanya singlet lusuh membalut. Celana pendek dekil menggantung pada kakinya yang sering limbung. Dan hanya sepatu butut membungkus telapak kakinya yang kisut

Advertisements
Cak Tarno

Tapi pada Jumat siang yang memanggang, lelaki itu datang dengan hati Arjuna menuju medan perang. Tetap merasa diri gagah seperti mereka yang berjubah. Tetap merasa diri tampan seperti mereka yang khusyuk di baris depan

Dan ketika sang khatib berdiri gagah di atas mimbar yang megah, mendengung senandung kidung nama-nama yang agung, lelaki itu bersila di sebuah ujung. Ia membekap kakinya dengan selembar sarung. Di ujung, ia terlihat hanya bagai sebuah relung.

Halaman: 1 2 Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan