Taman Surga

911 kali dibaca

Rumah kuno itu, yang disesaki perkakas lawas dan barang-barang antik, terlihat lama tak begitu terurus. Di samping kiri rumah, yang difungsikan sebagai garasi, tiga mobil tua berjejer dalam tidur panjang. Entah sejak kapan deru mesinnya tak pernah kedengaran lagi. Hanya sesekali terdengar derit engsel pintu dari salah satu mobil yang kadang dijadikan tempat tidur oleh seorang batih.

Rumah kuno itu, meski terdiri dari dua lantai, memang berukuran sedang. Maka perkakas lawas, yang sebenarnya tidak banyak, terasa menyesaki ruangannya. Ruang tamu telah sesak, nyaris tanpa tersisa, oleh meja persegi dengan empat kursi dari kayu jati. Ruang keluarga apalagi. Meja bundar besar menengahi hampir seisi ruangan. Dan yang memeluk hampir semua dindingnya adalah rak-rak buku, yang dipenuhi buku-buku dari mana saja, buku-buku apa saja.

Advertisements

Tapi lihatlah, selalu ada ruang untuk barang kuno atau antik. Di antara deretan buku-buku yang menguasai ruang, ada dua atau tiga barang kuno yang terbilang antik: di antaranya adalah radio transistor entah produksi tahun kapan. Mungkin pabriknya juga sudah lama tutup. Radio-radio itu berukuran besar, berwarna kusam kecoklatan, lebih menyerupai peti barang pusaka para priyayi zaman baheula. Mungkin radio-radio itu bisa mengeluarkan bunyi hanya jika dipukul atau ditabok. Buk!

Begitulah rumah orang yang selalu pergi, ini. Selama bertahun-tahun, mungkin lebih dari separo hidupnya, ia selalu pergi ke banyak tempat, dan biasanya membawa satu dua barang ketika pulang. Benda-benda itulah yang menyesaki rumahnya, benda-benda yang menjadi penanda akan suatu masa, dan mungkin jejak suatu tempat.

Baca juga:   Pesantren dan Ruang Gerak Sosial

Rumah kuno itu, beserta segala isinya, akhirnya memang menjadi penanda atau mewakili siapa pemilik dan penghuninya, kecuali yang satu ini: taman! Padahal, justru taman itulah alasan kenapa ia menjadi orang yang selalu pergi.

***

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan