Tak Ada Imam Besar dalam Islam

539 kali dibaca

Sejak Nabi Muhammad wafat, tidak ada lagi pemutus akhir kebenaran yang otoritatif di kalangan orang-orang beriman. Sejak Nabi Muhammad wafat, kaum mukmin tak pernah lagi satu suara, satu pandangan, satu pendapat yang benar-benar bulat. Itu terjadi sejak zaman Sahabat Abu Bakar, dan terus bersambung hingga hari-hari ini.

Begitu Sahabat Abu Bakar dipilih sebagai penerus Nabi dalam suatu musyawarah dengan kedudukan sebagai khalifah, benih-benih perselisihan di kalangan orang-orang beriman mulai mengecambah. Dimulai dari Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, hingga Ali bin Abi Thalib, satu demi satu para khalifah Islam ini meninggal oleh tusukan pedang. Tragedi yang terus bersambung hingga masa-masa jauh sesudahnya.

Advertisements

Posisi Nabi Muhammad memang tak tergantikan dalam tradisi Islam, terutama dalam hal kedudukannya sebagai Nabi dan Rasul. Itulah yang membuatnya sebagai pemutus akhir kebenaran yang otoritatif di kalangan orang-orang beriman. Namun, Nabi Muhammad juga tidak mewariskan sistem kepemimpinan umat atau sistem pemerintahan yang “baku”, sehingga empat Khulafa ar Rasyidin juga dipilih secara berbeda.

Baca juga:   PUISI UNTUK MANTANKU

Itulah salah satu dari tiga perkara yang menurut Sahabat Umar bin Khattab belum dijawab tuntas oleh Nabi Muhammad: kalalah, riba, dan kekhalifahan. Maka, setelah Khulafa ar Rasyidin, sebutan untuk pemimpin dan sistem pemerintahannya berbeda-beda. Ada khalifah dan kekhalifahan, ada mulk, ada sultan, ada emir, dan sebagainya sesuai lokalitas teritori dan kewargaannya.

Baca juga:   Bau Amis Laut

Hingga hari ini, tak ada sistem pemerintahan Islam yang baku. Di negara-negara yang saat ini mendaku sebagai Negara Islam, pun sistem pemerintahannya berbeda-beda. Dan tidak pernah ada negara Islam yang diakui sebagai negaranya orang Islam sedunia. Gerakan-gerakan yang mencoba menyatukan kewargaan orang Islam sedunia, di bawah satu bendera kenegaraan, selalu berujung pada ketidakpastian dan kekacauan — dan perang.

Lihat apa yang terjadi pada gerakan Pan Islamism yang dimotori Jamal-al-Din Afghani hingga yang mutakhir gerakan Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) dan Hizb ut-Tahrir —sayapnya di Indonesia Hizb ut-Tahrir Indonesia (HTI).

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

One Reply to “Tak Ada Imam Besar dalam Islam”

Tinggalkan Balasan