Santri dan Tradisi Berfilsafat

Penulis masih ingat, bahkan sangat membekas dalam benak pikiran, ketika salah satu putra masyayikh Pondok Pesantren Annuqayah akan melanjutkan studi mengambil jurusan filsafat. Ada beberapa pengasuh yang kurang restu terhadap pilihan tersebut. Tentu pengasuh itu mempunyai alasan tersendiri. Meski, pada akhirnya putra pengasuh itu tetap melanjutkan studi dengan mengambil kelas filsafat. Itu terjadi puluhan tahun yang lalu, saat penulis masih aktif sebagai santri di Pesantren Annuqayah. Saat ini ilmu filsafat sudah familiar dan diterima oleh banyak kalangan, termasuk lingkungan pesantren.

Memang ada beberapa ulama yang pernah berpendapat bahwa mempelajari ilmu filsafat haram hukumnya, di antaranya adalah Imam Nawawi. Itulah yang membuat sebagian kalangan pesantren resisten terhadap filsafat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tentu, Imam Nawawi mendasarkan pendapatnya terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya. Menurut Dr Bahrur Rozy, pengajar mata kuliah Pengantar Filsafat di sebuah perguruan tinggi swasta, filsafat itu bagaikan mata pisau yang sangat tajam. Jika dipegang oleh orang dewasa, sudah punya keahlian dalam memanfaatkan mata pisau, pisau tersebut memantik manfaat. Sebaliknya, jika dipegang oleh anak kecil, yang masih awam terhadap penggunaan mata pisau, maka akan berbahaya. Bukan karena mata pisaunya, tapi si pengguna pisau tersebut yang harus memiliki keterampilan khusus.

Begitu juga dengan filsafat, jika dipelajari oleh orang yang sudah teguh imannya, tangguh akidahnya, dan siap menjalankan ajaran syariat, maka filsafat akan bermanfaat dan pantas dipelajari oleh siapa saja, termasuk santri.

“Filsafat itu akan bermanfaat jika dipelajari, karena konsep ini merupakan pokok dari semua pengetahuan,” begitu penjelasan Bahrur Rozy yang merupakan alumnus Pesantren Annuqayah dan mendapat ijazah dari KH A Warits Ilyas (alm) untuk menterjemahkan ilmu mantiq yang menjadi salah satu mata pelajaran di tingkat MA (Madrasah Aliyah).

Definisi Filsafat

Plato mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada (dalam buku Pengantar Filsafat dari Masa Klasik hingga Postmodernisme, oleh Dr Ali Maksum). Maksud dari kata paling akhir adalah bahwa filsafat dijadikan sarana terkahir dalam memetakan sebab-sebab dan asas-asas dari suatu ilmu pengetahuan atau sains.

Masih dalam buku yang sama, Aristoteles mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab dari realita yang ada. Prinsip yang dicari adalah kebenaran, sedangkan penyebab yang dimaksud merupakan puncak dari realita kebijaksanaan (wisdom). Maka, prinsip dan penyebab kebenaran adalah dua aspek yang menjadi dasar dalam pengembangan filsafat.

Dan masih banyak lagi dari berbagai tokoh pengetahuan, terkait dengan definisi filsafat. Namun dari keseluruhan batasan makna filsafat, secara umum mendedikasikan tentang kebenaran, pencarian kebenaran, dan menautkan prinsip kebenaran dan kebijaksanaan. Konsep mencari kebenaran absolut di balik realitas yang penuh dengan kepura-puran (baca: kepalsuan), Al-akhdzu bil haqaiq, wal ya’su bil khalaiq (mengambil yang benar dan campakkan yang palsu).

Memahami kaidah dan hakikat filasafat akan membawa kita pada kesadaran untuk menggunakan logika dalam mencapai kebenaran. Sebab, akal manusia diciptakan Tuhan untuk dimanfaatkan sebagai sarana mencapai kesucian diri. Tidak digunakan sebagai sarana yang tidak ada kaitannya dengan kebenaran dan kebijaksanaan.

Sebagaimana diungkapkan oleh Phytagoras (sekitar abad ke-6 SM), ketika ditanya, “Apakah Anda orang yang bijaksana?” Dengan rendah hati Phytagoras menjawab, “Saya hanya phylosophos, pecinta kebijaksanaan (love of wisdom).” Atau, menurut versi lain, “Saya hanya orang yang mencintai pengetahuan.”

Tinggalkan Balasan