Sobir dan Kesabarannya

116 kali dibaca

“Aduh, duh,” minyak setengah penggorengan itu meletup keras, setelah bapak memasukkan potongan-potongan ayam berbalut tepung ke dalam wajan berisi minyak panas. Sebelumnya ayam itu harus diulat dengan bumbu khas. Paduan bawang merah goreng, bawang putih goreng, ketumbar, merica, dan tak lupa garam yang telah disangrai sebentar agar tak menggumpal. Lalu dicampurkan dan diblender dengan halus menjadi satu. Itu semua tugas ibu, kecuali bagian pemasaran dan juga pengolahan, yang semua dipegang oleh bapak dan aku.

Meski sudah memasarkan, manajemen keuangan masih dipegang oleh “ibu negara” kami. Memang selayaknya perempuan mempunyai daya konsentrasi tinggi dalam hal perputaran uang. Mereka bisa mengolahnya dengan telaten dan presisi. Sedang kami hanya bagian garda depan untuk menjalankan amanat pemasaran. Dengan kelebihan yang diberikan Tuhan pada tubuh kami, yang terdiri dari 45 persen otot, memang agaknya pantas kami disemati tulang punggung keluarga. Karena kami yang lebih bisa diandalkan jika berurusan dengan berat.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Kamu kenapa?” tanya bapak.

“Ini, kena letupan minyak.”

“Ah, tenang saja. Tak ada sakit yang bertahan selamanya.”

“Tapi ini nanti berbekas,” ucapku sambil menggosok bagian yang terkena minyak.

“Bagi laki-laki bekas luka itu kebanggaan.”

“Kebanggaan atas apa pak?”

“Untuk tanda bukti bahwa kita pernah berjuang.”

“Kalo untuk perempuan?”

“Kalo perempuan itu sebagai anugrah.”

“Loh, kok bisa.”

“Karena Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih berharga.”

Aku cuma manggut-manggut sambil memegangi dagu. Tampaknya omongan bapak ada benarnya. Meskipun aku tahu bahwa dia tak sengaja mengucapkan itu semua.

“Heh, Sob. Ngelamun apa. Itu hati-hati gosong ayamnya.”

“Oh iya, sorry-sorry. Cuma mikirin omongan bapak tadi.”

“Hah, omongan yang mana?”

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan