duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Menulis dan Lapisan Bawang Merah

Dalam salah satu edisi kumpulan tulisan sebuah gerakan nonprofit, ada satu hal menarik yang diuraikan oleh salah satu kontributor penulisnya. Bukan tentang indahnya tempat atau budaya masyarakat, atau tentang nakalnya anak-anak di lokasi pengabdian, melainkan tentang kejenuhan dan rasa frustrasinya selama berada di lokasi pengabdian yang membuatnya takut untuk menulis. Dia mengatakan bahwa dia enggan menulis karena takut bahwa apa yang akan dia tulis nantinya adalah sesuatu yang palsu. Dia khawatir kalau-kalau tulisan yang ia tulis bukanlah representasi dari dirinya sendiri; dia hanya menulis untuk menyenangkan orang lain yang mau dan sempat membaca tulisannya saja.

Baca Juga:   The End of Ramadan

Saat membaca curhatan singkat dari pengajar muda tersebut, jujur saja aku merasa tergelitik. Ada sedikit rasa tidak nyaman yang tiba-tiba berkecambah. Curhatan pendek tersebut seakan-akan mengingatkanku pada tulisan yang sempat aku tulis, yang belum bisa mewakili “aku” di dalamnya. Dan ini pulalah yang sebenarnya sering membuat jariku malas untuk mengetik. Sebuah kekhawatiran akan “produk palsu” yang terlahir dalam tulisan tersebut. Kekhawatiran atas pertanyaan: “apakah ini benar-benar aku?”

Advertisements
Cak Tarno

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Baca Juga:   Al Kennaniyah, Pesantren Putri di Ibu Kota

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan