Serbuk Kopi Hitam

257 kali dibaca

Senja mulai beranjak berganti malam. Sepasang suami istri sedang bercengkerama di depan rumah sederhana mereka. Percakapan mereka tentang masa depan terputus begitu saja, saat kopi yang sudah dihidangkan oleh sang istri diminum oleh sang suami, Sarman.

“Dik kopinya, kok, pahit? Belum dikasih gula?” tanya Sarman kepada wanita yang duduk di sampingnya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Masak, Mas?” Maryam tanya balik kepada suaminya.

“Iya.”

“Ya, sudah. Aku tambahin gula lagi. Mau?”

Sarman menggeleng pelan. Dia mengisap rokok yang sudah ada di tangan kanannya. Sepersekian detik lengang. Tak ada percakapan antara suami-istri itu. Pandangan lelaki itu menerawang ke atas. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

“Dik, apa kita ganti dukun saja, ya? Sudah dua tahun kita gunakan kopi dari Mbah Parjan. Nyatanya kamu belum juga hamil.” Lelaki bersuara sengau itu menoleh sekilas kepada Maryam.

Sudah sepuluh tahun sejak mereka menikah belum ada tanda-tanda kehidupan baru di rahim Maryam. Hal itu membuat Sarman risau. Umur yang sudah tidak muda lagi, menginjak angka empat puluh. Ditambah pertanyaan demi pertanyaan dari tetangga, menjadikan sepasang kekasih itu membelot dari ajaran yang selama ini mereka kerjakan. Dukun yang terkenal sakti mereka kunjungi. Setiap dari sana mereka selalu dibekali oleh Mbah Parjan dengan kopi bubuk hitam. Konon kata si dukun, kopi itu bisa membuat Maryam hamil. Namun, nyatanya sampai dua tahun mereka minum kopi dari Mbah Parjan hasilnya tetap nihil.

“Kita coba sabar dulu, Mas. Mana tahu setelah kopi yang ini habis, aku bisa hamil. Yang terpenting, kan, kita juga selalu berusaha setiap malam.” Maryam mengedip-ngedipkan mata manja kepada suami tercintanya.

Sarman meraup udara dengan berat, lantas mengeluarkannya dengan pelan. Akhir-akhir ini kopi yang disuguhkan Maryam dari Mbah Parjan itu terasa aneh di lidahnya. Terkadang pahit, hambar, dan campur aduk.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan