Senja Terakhir di Pesantren

58 kali dibaca

Senja telah tiba, tapi aku enggan beranjak dari tempat ini. Aku suka berlama-lama di sini, setelah sekian lama terlempar oleh jarak dan waktu sehingga membuatku merindu. Gubuk sederhana yang terletak di pinggir sawah ini membuatku bisa menikmati indahnya suasana senja, meski pikiranku terus saja ber-ostalgia. Udaranya sejuk, sesekali angin sepoi-sepoi menerpa wajah.

Aku melihat luasnya hamparan padi yang mulai menguning. Burung-burung mengudara dengan bebas di bawah bentangan langit yang ditemani oleh kilauan cahaya dari sinar-sinar terakhir mentari sore hari.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Sebenarnya dulu persawahan ini mengitari kompleks Pondok Pesantren al-Hikmah, tempatku menuntut ilmu dulu. Pemilik dari sawah ini Kiai Shabirin, pengasuh Pondok Pesantren al-Hikmah. Namun, setelah aku membalikkan badan, kini yang tampak adalah bangunan tinggi nan kokoh yang sesekali menguarkan suara bergemerisik. Bising. Ya, kini bukan lagi pesantren yang ada di situ, melainkan pabrik beras yang menjadi roda perputaran ekonomi. Masjid tempat kami dulu mengaji berubah menjadi lima kandang sapi, sedangkan dalem Kiai Shabirin berubah menjadi tempat penggilingan padi.

Aku masih ingat saat sawah ini masih dalam pangkuan pesantren. Semua santri bekerja secara suka rela. Biasanya aku menggarapnya saat senja tiba, serta diselingi permainan yang menyenangkan karena hanya waktu itulah kegiatan pesantren senggang.

Setelah musim panen tiba, Kiai tidak mengambil sepeser pun dari hasil penjualan. Sebagian dialokasikan ke dapur untuk keperluan makan santri dan sisanya disedekahkan pada yang membutuhkan.

Pesantren al-Hikmah adalah tempat menimba ilmu khusus untuk anak yang tidak mampu. Entah karena yatim, piatu, atau memang terlahir dengan finansial yang serba kekurangan. Oleh karena itu, santrinya tidak terlalu banyak. Sekitar seratus santri yang menetap, sedangkan yang lainnya datang, lalu pulang.

Mataku kembali menatap retina nostalgia pada masa lima tahun yang lalu, saat aku dan para santri lainnya berjalan di tengah pematang sawah saat senja tiba. Banyak hal yang kami lakukan, termasuk menggerakkan orang-orangan sawah agar burung terbang mengudara, saat sebagian hamparan telah menguning, mendekati masa panen.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan