duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Anak itu memandangi sandal jepitnya. Sandal jepit beralas putih, dan bertali biru. Anak itu masih memandangi sandal jepitnya, ada rasa iba terpatri dalam benaknya. Sebab, tampang sandal itu benar-benar tragis. Tak hanya ia, orang-orang yang melihatnya pun akan geleng-geleng kepala berpilu-pilu.

Baca Juga:   Nuzulul Quran: Membumikan Teks Ayat-ayat Tuhan

Sandal jepit sederhana dan barangkali berharga murah. Sandal itu sudah tipis tergerus waktu, kumal, dan nyaris putus. Sandal itu memiliki penderitaan, juga kebahagiaan. Derita, sebab tak kunjung dibuang dan hidup tenang. Bahagia, sebab anak itu tampak sangat setia hidup bersama sandal jepit tipis, kumal, dan nyaris putus itu.

Advertisements
Cak Tarno

“Ramal, ayo cepat! Lama sekali kau berwudhu,” panggil seorang temannya membuyarkan lamunan Ramal pada sepasang sandal yang ia pandangi.

Baca Juga:   Ulama Perempuan Gelar Ngaji Daring Kitab Kuning

Ia pun bergegas mengambil wudhu. Air mengalir ke beberapa bagian tubuhnya, seolah membersihkan segala dosa kebadungan anak yang baru akil balig. Tapi bukankah anak nakal itu memang sudah biasa, pikir Ramal. Ia tak tahu harus kesal, atau malah berterima kasih, pada sang Bapak. Sang Bapak telah tega membuang ia ke dalam jeruji pondok pesantren.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan