Rumah di Samping Masjid

961 kali dibaca

Meski berat tapi tekad Romlah sudah bulat. Rumah peninggalan orangtuanya yang berada persis di samping masjid akan ia jual. Ia pun mulai mendatangi satu per satu tetangganya. Siapa tahu ada yang sudi membeli rumah yang sejatinya terasa sangat berat ia jual itu. Sayangnya hingga seminggu berselang sejak Romlah bertekad menjual rumahnya, tak satu pun tetangga yang tertarik untuk membeli. Alih-alih ingin membeli, niat Romlah menjual rumah malah menumbuhkan kasak-kusuk para tetangga.

“Pamali menjual rumah peninggalan orangtua, semiskin-miskinnya aku, tak bakalan mau menjual tempat tinggalku.”

Advertisements

“Betul, rumah warisan kok dijual, amit-amit jabang bayi, jangan sampai aku menjual rumah warisan orangtuaku.”

“Heran aku sama Bu Romlah, sudah tua bukannya memperbanyak ibadah di masjid, eh malah mau pindah rumah.”

“Oh, jadi dia mau jual rumah buat beli rumah baru di tempat lain ya.”

“Iya, dia kemarin bilang begitu sama aku.”

“Aneh-aneh saja, kalau aku jadi dia sih, mendingan memperbanyak ibadah, eh malah mau menjual rumah.”

“Betul, harusnya Bu Romlah bersyukur rumahnya dekat masjid, bisa rutin berjamaah salat lima waktu.”

“Kalau begitu, kamu aja yang beli rumahnya, biar bisa sering beribadah ke masjid.”

“Ish, jangan ngaco, aku kan sudah punya rumah, ngapain beli rumah lagi?”

Tak ada seorang pun yang bisa membungkam mulut-mulut tetangga yang begitu tajam menghakimi kehidupan Romlah. Mereka hanya melihat sesuatu yang tampak mata saja, tanpa berusaha mencari tahu alasan sebenarnya, mengapa perempuan paro baya yang statusnya telah menjanda itu ingin segera menjual rumahnya agar bisa segera pindah dan mencari tempat tinggal yang baru.

“Kenapa tho, kamu ini ngebet banget ingin menjual rumah?” tanya Kirman, kakak sulung Romlah saat bertandang ke rumah adik bungsunya.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan