Resolusi Jihad: Nasionalisme Kaum Sarungan

521 kali dibaca

Sekira lima belas kiai berkumpul di rumah Wahab Chasbullah (1888-1971) di Kertopaten untuk mendiskusikan dan merumuskan langkah strategis mempertahankan akidah dan amaliah Islam, tradisi yang terganggu dengan munculnya ideologi transnasional yang diprakasai oleh Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afgani.

Para kiai itu kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai langkah untuk mempertahankan paham Ahlu al-Sunnah wal Jamaah dan nasionalisme. Spirit nasionalisme itu lahir untuk menyatukan ulama dan tokoh agama dalam melawan segenap bentuk penjajahan. Semangat nasionalisme itulah yang menginspirasi nama Nahdlatul Ulama yang artinya “Kebangkitan Para Ulama” (Anam, 1998).

Advertisements

Organisasi masyarakat yang identik dengan kaum sarungan ini memainkan peran strategis dalam mencapai kemerdekaan Indonesia. Mengandalkan konsolidasi pondok pesantren dengan potensi santri dan kiai, NU mendorong semangat kebangsaan dan perlawanan terhadap penjajah melalui berbagai kebijakan politiknya. Seperti  Resolusi Jihad, penetapan Dar el Islam, penetapan Soekarno sebagai Wali al-Amr ad-daruru bi asy-Syaukah, dan partisipasi aktif merumuskan dasar negara (Piagam Jakarta).

Baca juga:   Al Kindi dan Gagasan Filsafatnya

Hal tersebut menjadi bukti historis yang menandakan pondok pesantren, kiai, dan santri merupakan variabel penting dalam semangat kehidupan berbangsa dan bernegara. Kiprah kebangsaan salah satu ulama terbaik Indonesia, KH Hasyim Asy’ari, akan selalu bersinergis dengan kehidupannya yang berlatar belakang pesantren. Beliau bisa memainkan peran sebagai seorang kiai, aktivis politik, dan pemimpin masyarakat yang memberikan banyak inspirasi untuk santri-santrinya.

Baca juga:   Pendiri Pondok Pesantren An-Nur Kubu Raya Wafat

Dalam menghadapi penjajahan Belanda, KH Hasyim Asy’ari melakukan perlawanan secara aktif, progresif, dan nonkooperatif. Kaum sarungan tidak lagi hanya belajar ilmu agama Islam, namun juga belajar bahasa Belanda, berpidato (bicara di depan umum), berhitung, dan ilmu bela diri. Tujuannya untuk menyiapkan kader santri berjiwa nasionalisme agar bersiap diri menyambut panggilan jihad membebaskan Indonesia dari cengkeraman penjajahan. Menjadi pasukan berani mati yang selalu siap memberikan segala potensinya untuk bangsa dan negara.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan