Jejak Pejuang

508 kali dibaca

Usiaku kala itu masih sembilan tahun. Sebagai anak laki-laki, aku oleh Emak selalu ditugaskan untuk mencari kayu bakar ke hutan. Pergi membawa bekal nasi ditaburi goreng terasi dan ikan peda, hanya sesekali ditambah sayur asam. Biasanya pulang setelah Ashar. Tapi pada suatu hari, aku tersesat, hingga sampai Maghrib masih berputar-putar di hutan.

Untung saja ada seorang tentara pejuang yang sembunyi di hutan menemukanku. Dia mengantarkanku ke pinggir hutan, tepat di jalan setapak menuju desa. Sebelum melepasku pergi, dia menitipkan sepucuk surat untuk Mbak Siti Ayuni. Aku mengenalnya. Dia anaknya Pak Dimarno, teman Bapak berjualan pisang.

Advertisements

“Ini rahasia, jangan sampai ada yang tahu!”

Baca juga:   Santri Telat

“Iya, baik!”

“Nanti kalau ke hutan lagi, jangan mencari Mas Arya. Kalau ada surat atau apa, taruh saja di balik semak-semak di dekat pohon paling tinggi, di tempat mas menemukan kamu tadi!”

Kemudian aku pergi pun menelusuri jalan setapak yang sudah mulai berselimut gelap. Ketakutan bertemu tentara Belanda atau kaki tangannya membuatku berjalan dengan setengah berlari. Aku takut mereka mengetahui kalau aku membawa surat dari seorang tentara pejuang yang berada di dalam hutan. Kalau tahu, mereka pasti menyerbu hutan itu. Juga menangkapku dan menyiksa Bapakku yang dianggap membiarkan anaknya menjadi pemberontak.

Baca juga:   Selawat Sakti

Untuk menghindari itu, aku langsung saja mendatangi rumah Pak Dimarno tanpa pulang terlebih dulu. Rumah Pak Dimarno ada di ujung desa yang menuju hutan. Setelah ada di halaman rumah Pak Dimarno, terlihat Mbak Siti Ayuni bergegas bergegas menghampiri.

“Kamu kenapa Le seperti dikejar hantu?”

Langsung aku berikan surat itu. “Ini dari Mas Arya, Tole bertemu di hutan waktu nyari kayu.”

Mbak Siti Ayuni langsung berbinar matanya. “Bagaimana dia?”

“Masih ganteng!”

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan