duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

PUISI UNTUK MANTANKU

“Laila, aku punya puisi untuk mantanku”

Seketika itu telingamu memerah. Alismu saling beradu, pun kulit di atasnya mengkerut tak karuan. Kedua bibir yang pernah kulumat hebat kini melecu menolak kata-kataku yang kau anggap rancu.

Advertisements
Cak Tarno

Meski itu benar kenyataannya.

Baca Juga:   Penjual Cilok Naik Haji

Kedua mata kita saling bertemu. Tapi tak saling menjamu. Kau begitu mengintimidasiku dengan segala kemarahanmu.

Ralat!

Melainkan dengan segala kecemburuanmu

Kedua kakimu sudah tak kuasa di tempat. Namun, nuranimu masih acuh. Kau beranikan diri menangis di depanku yang kurasa tak perlu.

Sebagai lelaki, aku harus bersikap dewasa. Mencoba bersikap bijak seperti dalam film atau drama. Tentu seharusnya bukan bualan belaka. Aku dekati kau, hingga sengal napasmu begitu jelas terdengar. Kupikir kau juga merasa demikian. Lalu aku bisikkan sebuah kalimat pada telinga yang tertutup uraian rambutmu.

Baca Juga:   MEMOAR MAJNUN

Halaman: 1 2 Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan