Puasa dan Pembentukan Karakter Remaja

585 kali dibaca

Saat ini seluruh umat muslim di dunia tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Ini merupakan momentum yang sangat tepat bagi kita untuk meningkatkan kualitas ibadah baik yang wajib maupun sunnah. Tidak hanya perihal ibadah yang hubungannya dengan Allah, namun juga dengan sesama manusia dan makhluk hidup lainnya.

Puasa Ramadan adalah ibadah wajib seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”. Jelas sekali bahwa ayat ini diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman sehingga puasa menjadi media untuk menumbuhkan rasa takwanya kepada Allah SWT. Namun nyatanya ayat ini belum dimaknai secara mendalam, sehingga kebanyakan mereka berpuasa sekadar untuk menggugurkan kewajibanny, sehingga hanya mendapatkan lapar dan dahaga.

Advertisements

Sesungguhnya, ibadah puasa memiliki korelasi dengan perilaku seseorang. Melalui serangkaian penelitian yang sudah pernah dilakukan, terbukti bahwa puasa memiliki korelasi dengan pengendalian diri, menumbuhkan sikap prososial, dapat menjadi intervensi bagi individu yang mengalami problem psikologis, terutama pada mereka yang masuk dalam fase remaja.

Perlu diketahui bahwa remaja memiliki dinamika psikologis yang cukup kompleks, terutama pada aspek emosional dan sosial. Masa remaja merupakan periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan dewasa. Remaja belajar untuk menyesuaikan diri dengan menjadi individu yang mandiri. Belajar untuk lepas tidak bergantung pada  figur otoritasnya. Mereka memiliki tugas perkembangan yang harus dilakukan misalnya independen secara emosional dan sosial.

Tentu bukanlah hal yang mudah bagi seseorang menjalani masa remaja dengan baik. Pergulatan batin mereka menunjukkan begitu sulit fase ini. Belum juga adanya stereotipe dari masyarakat di mana remaja sebagai pribadi yang merusak, sulit dipercaya, sering melakukan tindakan kriminal, tidak bertanggung jawab. Apalagi diperkuat dengan berita di berbagai media, yang menayangkan aksi bejat sekolompok remaja atau individu yang melakukan tindak kejahatan. Kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak pejabat pajak misalnya, atau kasus pembacokan yang dilakukan oleh sekelompok remaja. Belum juga kasus kesehatan mental lainnya yang dialami oleh banyak remaja yang mungkin lepas dari sorot media.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan