Potret Pesantren Mandiri (4): Al-Imdad Bantul

2.844 kali dibaca

Pada mulanya hanya sebuah majlis taklim. Namun, KH Humam Bajuri dengan sabar dan tekun mengelola majlis taklim itu bertransformasi menjadi pondok pesantren. Kini, Al-Imdad menjadi salah satu dari 9 percontohan mandiri dengan sedikitnya 9 unit usaha dan jaringan pemasarannya, I-Mart.

I-Mart Pesantren Al-Imdad.

Pondok Pesantren Al-Imdad yang berada di Dusun Kauman, Wijirejo Pandak, Bantul, Yogyakarta ini memang dirintis oleh KH Humam Bajuri. Ceritanya, sepulang dari nyantri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Kiai Humam mulai mengadakan majlis taklim pada awal 1980-an.

Advertisements

Ketika jumlah santri yang ikut mengaji dalam majlis taklim tersebut semakin banyak, Kiai Humam kemudian membeli sebidang tanah. Di atas bidang tanah tersebut ada sebuah bangunan kuno yang kemudian dimanfaatkan untuk keperluan majlis taklim. Inilah yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Al-Imdad itu.

Sedikit demi sedikit Kiai Humam juga mulai membangun untuk tempat pengajian, termasuk pondok untuk mukim santri yang datang dari jauh. Kemudian pada 1984 didirikan bangunan khusus untuk tempat pengajian para santri sekaligus dengan dana jerih hasil jerih payah sendiri.

Setelah 12 tahun berkembang sebagai pondok pesantren, pada 1996 KH Humam Bajuri wafat. Pengelolaan Pesantren Al-Imdad kemudian diteruskan oleh oleh istrinya, putranya, dan semua saudara-saudaranya yang lain.

Di tangan generasi penerusnya ini, rupanya Pesantren Al-Imdad makin berkembang. Bahlan, lembaga-lembaga pendidika baru terus didirikan. Gedung-gedung baru sebagai sarana pendidikan juga terus dibangun. Kini, Pesantren Al-Imdad memiliki dua asrama untuk santri putra dan putri, musala putra-putri, serta gedung-gedung kelas dan perkantoran serta sama lainnya untuk mencukupi keperluan para santri. Jumlah santrinya pun terus berkembang, dari yang pada awalnya cuma 20 orang, kini sudah lebih dari 800 orang.

Baca juga:   Absurditas Agama dan Logika Kemanusiaan

Pengembangan pendidikan formal mulai masif pada 1998. Saat itu, pondok pesantren ini mengelola lembaga pendidikan milik LP Ma’arif yang hampir kehabisan murid. Pada yang sama, Al-Imdad juga mengelola Madrasah Tsanawiyah, kemudian mendirikan Madrasah Aliyah pada 2012. Dengan adanya MTs-MA di pesantren ini, jumlah santri mengalami lonjakan setiap tahunnya.

Untuk mengimbangi perkembangan pesat pendidikan yang dikelolanya, pengurus Al-Imdad juga mengembangkan program wirausaha santri. Program ini dimaksudkan sebagai pendidikan kewirausahaan di kalangan santri. Untuk mendukung program itu, Pesantren Al-Imdad mulai mengembangkan perintisan industri, seperti membuat produk makanan berupa wingko, kue dan roti, jamur tiram, emping garut dan emping singkong, ceriping singkong, dan sebagainya.

Tak hanya itu. Pesantren Al-Imdad juga menggulirkan program lingkungan hidup, seperti pengolahan sampah, pembuatan pupuk organik, kebun sawit, peternakan, pertanian hortikultura/sayuran, kerajianan berbahan baku sampah, dan pendampingan peternak bagi petani. Dan pada program pendampingan ini PP Al-Imdad berkolaborasi dengan RT dan RW setempat yang dibentuk ketua dari masing-masing RT dan RW.

Baca juga:   Saat Nabi Membela Para Penyebar Ilmu

Selain itu, Pesantren Al-Imdad juga mengembangkan program pemberdayaan perekonomian masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat sekitar Pondok Pesantren Al-Imdad yang berbasis lingkungan hidup. Bentuk program berupa  penanaman pohon papaya di pekarangan milik masyarakat sekitar Pondok Al-Imdad dan penanaman pohon sengon di lahan tidur milik masyarakat dalam bentuk kemitraan. Ada juga penanaman pohon papaya di pekarangan milik masyarakat. Pihak pondok membagikan 5 bibit papaya kepada setiap KK untuk ditanam di pekarangan sehingga hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat.

Puncaknya, pada 26 Oktober 2020, Pesantren Al-Imdad membuka jaringan perdagangan ritel yang disebut I-Mart. Lokasi berada di tengah kota Bantul itu. I-Mart ini dirancang sebagai jaringan pemasaran produk dari unit-unit usaha pesantren dan juga produk ekonomi masyarakat setempat. Sebagai sebuah aktivitas ekonomi, I-Mart sejak awal memang sudah diproyeksikan menjadi penopang kemandirian pesantren dan menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.

Multi-Page

5 Replies to “Potret Pesantren Mandiri (4): Al-Imdad Bantul”

Tinggalkan Balasan