Pondok-pondok Tua (3): Nazhatut Thullab, yang Tertua di Madura

3.665 kali dibaca

Nama Nazhatut Thullab sebagai pondok pesantren cukup melegenda. Ia menjadi pondok pesantren tertua di Pulau Madura, dan salah satu yang tertua di Nusantara, yang tetap eksis hingga kini. Didirikan pada 1702, kini usianya telah mencapai 319 tahun.

Adalah Kiai Abdul ‘Allam perintis pendirian pondok pesantren yang berada di Desa Prajjan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, ini. Sejarah perjuangan Kiai Abdul ‘Allam hingga merintis pendirian pesantren Nazhatut Thullab terekam dalam Babad Ranah Pajjan. Ia yang membuka daerah yang kini dikenal sebagai Desa Prajjan itu.

Advertisements

Konon, Kiai Abdul ‘Allam memiliki nama asli Pang Ratoh Bumi. Ia berasal dari ujung timur Pulau Madura, Sumenep. Abdul ‘Allam adalah nama pemberian dari Hadratu Al Syaikh Aji Gunung Sampang, gurunya mengaji. Saat berguru pada Syaikh Aji Gunung, atau dikenal juga dengan julukan Buju’ Aji Gunung, Abdul ‘Allam memiliki dua sahabat karib dari Jawa yang memperoleh julukan Buju’ Napo dan Gung Rabah Pamekasan. Kedua sahabat ini ikut mewarnai perjalanan hidup Abdul ‘Allam.

Baca juga:   Al Haniifiyah, Mendidik Santri Berjiwa Nasionalis

Berdasarkan hikayat yang berkembang di masyarakat, Kiai Abdul ‘Allam termasuk salah seorang yang intens melakukan komunikasi dengan Pangeran Cakra Ningrat II ketika sang pangeran ini ditangkap dan diasingkan oleh Penjajah Belanda ke Madura. Peristiwa itu terjadi pada periode 1674-1679. Pada saat itu, Kiai Abdul ‘Allam dan Pangeran Cakra Ningrat II sering membahas perjuangan rakyat melawan Belanda. Karena itu, berdasarkan hikayat ini, Kiai Abdul ‘Allam menjadi salah satu tokoh perlawanan terhadap Belanda bersama Pangaran Cakra Ningkrat II.

Baca juga:   Ale, Ikan, dan Kehilangan

Babad Ranah Pajjan mengisahkan, suatu hari Abdul ‘Allam menerima tugas dari Buju’ Aji Gunung untuk pergi ke kediaman Ratoh Ebuh di Bangkalan. Tujuannya mengambil Al Qur’an dan sebuah cincin sang guru yang jatuh ke dalam jamban (WC). Tugas tersebut diterima pada saat sang guru hendak melaksanakan salat Ashar dan diharapkan sebelum Maghrib kedua benda tersebut sudah diterima di Sampang. Saat menunaikan tugasnya, Abdul ‘Allam ditemani dua sahabatnya, Buju’ Napo dan Gung Rabah.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan