Pohon dalam Perut

Semenjak ibu mengatakan bahwa biji yang tertelan itu akan tumbuh dalam perutnya, lalu menjadi pohon yang dahannya bergoyang-goyang, saban malam keringat dingin mengucur dari tubuhnya. Tetapi, ia juga yakin ibu tidak mungkin sekadar menakut-nakuti. Ibu sudah tua, tidak ada untungnya menakuti-nakuti anak kecil sepertinya. Ibu juga punya banyak pekerjaan yang lebih penting dari sekadar mengurusi biji delima yang tertelan. Saya sering menemuinya terjaga setiap pukul satu kurang duapuluh menit, ia berjalan lirih ke wastafel sambil memasukkan telunjuknya ke tenggorakan.

“Hey, apa yang kau lakukan, Cil?”

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Ia tidak menjawab, bergeming. Di dahinya terdapat bercak-bercak peluh. Dari sorot matanya bisa dilihat bahwa ia hanya ingin memuntahkan isi perutnya. Ia ingin biji delima itu keluar dan gagal tumbuh di dalam. Itu dilakukannya selama seminggu sejak ucapan ibu. Ia terus membayangkan dalam perutnya terdapat pohon delima, semakin tahun beranak-pinak. Sampai tak disangka, perutnya menjadi semacam hutan. Ia terlalu kecil untuk dongeng-dongeng —yang menurut pikiran orang dewasa—tidak masuk akal. Di dalam perut tidak terdapat tanah lapang. Itulah sebenarnya, di dalam sana tidak akan pernah tumbuh pohon delima.

Baca Juga:   Tertipu Pencuri yang Lihai

Tetapi, bukan anak kecil namanya jika pikirannya sama seperti orang dewasa. Sementara, ibu seperti manusia yang tak peduli pada apa yang dilakukan bocah lima tahun kurang dua bulan itu. Ibu sengaja tidak menarik ucapannya saat ia menceritakan perihal biji delima yang tidak sengaja tertelan.

“Rasakan itu! Ibu sudah berkali-kali bilang agar tidak makan delima.”

Baca Juga:   Kiai Syukri di Antara Sabar dan Syukur

Itu bukan penuh salahnya. Delima di halaman rumah yang ditanam ayah sepuluh tahun lalu sungguh menggoda. Batangnya yang pendek dan bisa dijangkau olehnya adalah penyebab utama. Memang, setiap musim buah, siapa pun akan melihat kembang di pucuk-pucuk delima yang pendek itu, tidak terkecuali anak kecil ibu. Waktu itu, saya melihat ia menjangkau sendiri buah yang merah dan menjatuhkannya ke lantai semen berkali-kali sampai terbelah.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan