Pilpres 2024 dan Kekecelean Saya

239 kali dibaca

Tampaknya banyak kalangan yang kecele dalam menghadapi dan menyikapi dinamika Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Setidaknya saya yang banyak mengalami kekecelean itu. Konstruksinya kira-kira seperti ini.

Sudah jauh-jauh hari, saya membayangkan Pilres 2024 akan berlangsung setidaknya seperti Pilpres 2014 dan 2019 serta dibumbui brutalitas Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. Yang berbayang adalah, Pilres 2024 akan diwarnai politisasi identitas berbasis keagamaan yang semakin kental, dan karena itu pertarungan antarkubu akan lebih brutal. Bahkan, banyak pakar dan pengamat politik punya bayangan serupa.

Advertisements

Dengan mempertimbangkan berbagai dampak destruktifnya terhadap proses demokrasi dan kehidupan berbangsa, berbagai kalangan menyerukan agar politisasi identitas terutama yang berbasis keagamaan tidak lagi digunakan dalam Pemilihan Umum 2024. Bahkan, beberapa kali saya juga menulis di sini yang mengingatkan bahayanya politisasi identitas berbasis keagamaan dan jangan memberi panggung kepada tokoh-tokoh yang antidemokrasi.

Tapi bayangan itu mulai sirna seiring pengelompokan kubu-kubu dalam membentuk koalisasi dalam proses pencalonan presiden dan wakil presiden. Melemahnya fenomena politisasi identitas mulai makin terasa ketika terbentuk pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar sebagai calon presiden (capres) dan wakil presiden (wapres) serta Partai Demokrat keluar dari koalisi Partai Nasdem dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang posisinya digantikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Semula, yang dikhawatirkan berpotensi menggeber politisasi identitas adalah  dari kubu pengusung Anies Baswedan. Namun, begitu PKB masuk dan berada di satu kuali dengan PKS, kekhawatiran itu perlahan sirna. Dan, dengan konfigurasi kontestan peserta Pilpres 2024 yang telah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), para pengusung politisasi agama dan kelompok-kelompok radikalis-ekstremis memang terlihat tidak mendapatkan ruang. Dua kontestan lain, yaitu pasangan Ganjar Pranomo-Mahfd MD dan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka juga sangat kecil kemungkinannya memberi panggung pada kelompok pengusung politisasi agama dan kelompok-kelompok radikalis-ekstremis.

Hantu Politik Dinasti

Dengan konfigurasi kontestan peserta Pilpres 2024 seperti itu, saya yang semula memprediksi bakal marak politisasi agama akhirnya kecele. Hantu politisasi agama hilang dari bayangan. Lega? Nanti dulu. Rupanya, ada hantu lain, yang justru lebih serem, yang membayang-bayangi Pilpres 2024 ini. Hantu pelanggengan kekuasaan. Hantu antidemokrasi. Konstruksinya kira-kira seperti ini.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan