Perjalanan Rindu

102 kali dibaca

1

Debu, retak-retak tanah yang membatu, menganga, membongkah. Lalu liat, licin, dan membecek. Itulah siklus waktu tanah kelahiranku, desaku. Adalah lelaki jadzab yang menjadi tanda pergantian waktu. Adalah lelaki jadzab yang menjadi jendela: gerangan apakah yang datang menjelang?

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Bila ia bertelanjang badan, berkeliling menyusuri jalanan yang riuh oleh duga oleh rencana oleh harapan oleh kecemasan, orang-orang yakin matahari akan segera memanggang. Debu-debu menyelimuti tetumbuhan, retak-retak tanah membatu, menganga, membongkah. Alam pun meranggas. O, kemarau tiba! Lalu menghilang.

Bila lelaki itu berkopiah, dan ada baju yang membalut tubuhnya yang ringkih, melangkah perlahan mengitari jalanan yang riuh oleh keluh tubuh-tubuh yang basah oleh keringat, orang-orang yakin air akan segera memandikan bumi yang gerah. Lalu liat, licin, dan membecek. Dinding-dinding bergetar oleh retak-retak yang menggembur, tanah mengatup. O, penghujan datang! Lalu menghilang.

O, lelaki itu, siklus waktu. Ada yang terulang. Ada yang selalu datang. Ada yang selalu menghilang. Begitulah orang-orang selalu menunggu. Menunggu yang selalu terulang, yang selalu datang, yang selalu menghilang.

O, waktu, kau telah melahirkan aku.

2

Di sebuah terik yang melelahkan, seseorang bertanya, “Kau ini sebenarnya ingin menjadi apa?”

Ia bertanya, karena melihatku seperti angin, karena melihatku seperti air, karena melihatku seperti api, karena melihatku seperti debu. Tidak seperti batu. Tidak seperti gunung.

3

Saat itu usiaku mungkin baru enam atau tujuh tahun atau entahlah. Air sungai itu mengalir tenang, kecoklatan. Di atasnya ada sebuah titian bambu. Aku menitinya. Kadang berlompatan di atasnya, lalu terjun ke dalam air kali yang kecoklatan itu. Karena, bagi kanak-kanak, hidup adalah permainan.

Lalu, saat berjalan di atas titian itu, aku bertemu entah siapa. Dia mengulum senyum, dan aku menyambutnya. Entah didorong oleh apa, bibirku lalu terbuka, “Kaukah Tuhan itu?” Dia cuma tersenyum. Dan aku pun segera melupakannya, lalu kembali larut dalam kecipak air.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan