Pemikiran Syekh Al-Banjari tentang Manusia

397 kali dibaca

Jika sebelumnya saya menulis tentang ikhtiar mengenal Tuhan ala Syekh Al-Banjari, maka kali ini saya akan menulis pemikiran Syekh Al-Banjari tentang manusia. Siapa yang tidak mengenal Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari?

Ya beliau merupakan sosok ulama yang mendunia dan kiprahya tidak pernah dilupakan sejarah. Rekam jejak Syekh Arsyad dalam menyebarkan dakwah di Nusantara masih menyisakan ajaran-ajaran yang masih dikembangkan sampai hari ini terutama ajaranya tentang tasawuf. Di sini saya tidak akan menyinggung soal biografinya lagi, sebab pada tulisan sebelumnya saya sudah mengulas secara gamblang.

Advertisements

Perjalanan intlektual Syekh Arsyad yang melalang buana hingga ke mancanegara menjadikannya sangat dihormati banyak kalangan. Bahkan beliau dipercaya oleh Sultan Tahmi Allah II untuk berdakwah di Banjar, sebab pada waktu itu meski ada kerajaan bercorak Islam namun agama Islam tidak tumbuh dengan siginifikan. Melihat tanah Banjar yang kering dari kegiatan ruhani, Syekh Arsyad merasa prihatin, maka beliau mengambil inisiatif membangun langgar untuk kegiatan belajar dan lama-lama murid Syekh Arsyad menjadi tambah banyak.

Syekh Arsyad mengajarkan baca tulis Arab-Melayu, Fikih, Nahu-Saraf, Tauhid, Ilmu Pertanian, Tafsir, Hadis, dan masih banyak lagi. Tidak hanya mengajar, ternyata Syekh Arsyad juga produktif menulis kitab, yang paling fenomenal di antara kitabnya berjudul Sabil Al-Muhtadin Li at-Tafaqquhi fi Amri ad-Din. Kitab ini masyhur sampai ke Brunei, Pattani, dan Malaysia. Namun ada satu kitab karyanya yang secara implisit bicara tentang manusia. Kitab tersebut berjudul Kanzu Al-Ma’rifah.

Dalam kitab Kanzu Al-Ma’rifah ini, Syaikh Arsyad tidak mengonsep secara terperinci tentang manusia. Namun terdapat benang merah yang bisa kita tarik untuk menggambarkan asal-usul manusia seperti yang tersurat dalam kitab Kanzu Al-Ma’rifah.

Syekh Arsyad berpendapat bahwa segala yang ada di jagad raya ini berasal dari Nur Muhammad. Sangat disayangkan dalam kitab ini tidak dijelaskan tentang konsep Nur Muhammad, sehingga susah dilacak apakah Syekh Arsyad terpengaruh tasawuf falsafi yang dikembangkan Abdul Karim al-Jilli dan Ibnu ‘Arabi atau terpengaruh pemikiran filsuf muslim seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina.

Teori Nur Muhammad ini bukanlah sesuatau yang baru dalam dunia tasawuf dan filsafat. Jauh sebelum Syekh Arsyad lahir, teori ini sudah berkembang dan pertama kali dikenalkan oleh Husein Ibn Mansur al-Hallaj.

Teori Nur Muhammad ini jika diteliti lebih jauh ternyata sudah bekembang lebih dulu di kalangan kaum Syiah Ghullat dan istilah Nur Muhammad sudah ada sejak zaman Imam Ja’far al-Shadiq. Kemudian Al-Hallaj menyatakan bahwa Nur Muhammad ada dalam konsep tasawuf falsafi. Jika disandingkang dengan teori filsafat dari Al-Farabi dan Ibnu Sina, terdapat kesamaan yaitu awal kejadian alam semesta, termasuk manusia, dimulai dari akal pertama dan beremanasi sampai membantuk jagad seperti sekarang ini. Jadi dapat kita lihat bahwa posis Syekh Arsyad dipengaruhi oleh teori tasawuf dan filsafat.

Eksistensi manusia di muka bumi ini oleh Syekh Arsyad dianggap hanya bersifat semu atau majazi, sementara yang hakiki hanyalah Tuhan. Menurut Syekh Arsyad, orang yang mampu melenyapkan perbuatan, sifat, dan zatnya dari dalam dirinya maka orang tersebut memiliki tauhid yang kuat dan dalam kondisi fana. Jadi menjadi manusia yang sempurna itu menurut Syekh Arsyad harus memiliki tauhid kuat dan dalam kondisi fana. Menurut Syekh Arsyad, jika manusia mampu menghilangkan pandangan dan pengakuan terhadap keberadaan diri sendiri, maka Allah akan membuka ilmu tauhid al-zat, yaitu tidak ada yang wujud selain Allah.

Syekh Arsyad membagi manusia menjadi tiga bagian, yaitu awam, khawash, dan khawash al khawash. Kelompok orang yang awam ini cirinya ketika melakukan ibadah ‘ubudiyah mereka masih menganggap bahwa perbuatan yang lahir dari dirinya merupakan hasil dari usahanya sendiri, oleh sebab itu mereka selalu menuntut upah pahala yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Orang dalam kondisi awam seperti ini dalam hatinya masih tercampur antara nafsu dan ketaan pada Tuhan oleh sebab itu dalam setiap ibadah yang mereka lakukan selalu menuntut upah dan jika tidak ada pahalanya mereka tidak mau mengerjakan.

Selanjutnya orang khawash yaitu kelompok orang yang ada dalam kondisi fana dari nafsunya dan mereka menganggap bahwa segala perbuatanya merupakan jalan mendekatkan diri pada Tuhan. Mereka dalam beribadah tidak pernah menuntut upah atau pahala jadi ibadah yang dilakukan murni karena Tuhan. Terakhir kelompok orang khawash al khawash yaitu orang yang sudah fana pada Allah, dengan Allah, dan bagi Allah. Orang yang mampu mencapai maqom ini hanyalah para nabi sebab dalam hati mereka sudah sirna segala nafsu keduniawian yang ada hanya Allah.

Kemudian Syekh Arsyad menjelaskan bahwa tauhid al-af’al merupakan tauhidnya orang awam, sementara tauhid al-shifat merupakan tauhidnya orang khawas dan yang terakhir tauhid al-zat adalah tauhidnya orang khawashul khawash.

Semantara itu orang yang tidak mampu mencapai tiga kelompok tersebut Syekh Arsyad menyebutnya dengan istilah makhluk. Lebih jauh Syekh Arsyad menerangkan tentang hubungan perbuatan manusia dengan dirinya sendiri hanyalah hubungan Nisbah Kasabiyah (penyandaran usaha). Sedangkan hubungan pada Tuhan merupakan hubungan Nisbah Khaliqiyah (penyandaran penciptaan).

Oleh sebab itu Syekh Arsyad berpendapat bahwa Tuhan menciptakan sedangkan manusia hanya mengusahakannya. Sebagai penutup tulisan ini saya akan memetakan sedikit pemikiran Syekh Arsyad tentang manusia. Pertama manusia sempurna yaitu orang yang mencapai maqom khawash al-khawash. Kedua orang yang masih mengharap pahala dalam setiap usahanya disebut awam. Ketiga bahwa ilmu syariat dan hakikat menjadi landasan utama membangun hubungan mesra antara Tuhan dan manusia.

Refrensi:

  • Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi, dan Modernisasi Menuju Milienium Baru, Logos, Jakarta, 1999.
  • Harun Nasution, Filsafat Agama, Bulan Bintang, 1985.
  • Harun Nasution, Failsafat dan Mistisme, Bulan Bintang, Jakarta, 1978.
  • Bayani Dahlan, Pemikiran Sufistik Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Pustaka Ulama, Yogyakarta, 2015.
Multi-Page

Tinggalkan Balasan