Mengapa Para Ulama Produktif Menulis

135 kali dibaca

Dari beberapa kisah tokoh ulama yang terdapat di dalam kitab semisal Qimatuz Zaman Indal Ulama karya Abdul Fattah Abu Ghuddah atau Uluwul Himmah karya Syaikh Muhammad Al-Muqaddam, kita bisa mengajukan sebuah pertanyaan paling mendasar: Apa saja kiat dan rahasia di balik semangat mereka berkarya?

Mengapa para ulama pada zaman dahulu bisa sedemikian produktif, padahal fasilitas menulis pada saat itu tidak secanggih seperti hari ini? Tidak ada microsoft word untuk menyimpan tulisan ataupun menyuntingnya. Tidak ada mesin fotokopi untuk menggandakan karya. Hanya tersedia kertas, pena, dan tinta —itupun dengan keterbatasan akses untuk membeli, mendapatkannya. Kalaupun ingin menggandakan karya, mereka harus mendiktekan atau menulis ulang secara manual.

Advertisements

Hal ini penting untuk dikemukakan. Demi menjawab pertanyaan tersebut, setidaknya ada beberapa hal yang melatarbelakanginya. Di antaranya, para ulama menulis dan berkarya tidak lain didasari keikhlasan sebagai investasi amal kebaikan di akhirat. Sebab, setiap tulisan yang dihasilkan, diharapkan menjadi ladang kebaikan yang pahalanya terus mengalir, sebanding lurus dengan manfaat yang dirasakan oleh pembaca.

Di samping itu, menulis merupakan salah satu upaya intelektual dari para ulama terdahulu. Hal itu dilakukan dalam rangka mewariskan ilmu pengetahuan kepada generasi selanjutnya. Menulis menjadi jalan para ulama untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Menulis bukan sekadar urusan hobi, karena mereka adalah penerus estafet perjuangan para Nabi.

Dalam sebuah hadis ditegaskan, bahwa para ulama merupakan pewaris para Nabi.* Setiap karya tulis yang dibaca, dipelajari, dan dikaji menjadi amal jariah bagi penulisnya. Semacam passive income bagi siapa yang menginginkan pahala kebaikan senantiasa mengalir kepadanya, bahkan ketika sudah meninggal dunia. Nabi Saw bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ:

صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:”Apabila manusia meninggal, amal perbuatannya menjadi terputus, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau dari anak saleh yang senantiasa mendoakannya (HR. Muslim).

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan