Mengapa Para Ulama Produktif Menulis

134 kali dibaca

Dari beberapa kisah tokoh ulama yang terdapat di dalam kitab semisal Qimatuz Zaman Indal Ulama karya Abdul Fattah Abu Ghuddah atau Uluwul Himmah karya Syaikh Muhammad Al-Muqaddam, kita bisa mengajukan sebuah pertanyaan paling mendasar: Apa saja kiat dan rahasia di balik semangat mereka berkarya?

Mengapa para ulama pada zaman dahulu bisa sedemikian produktif, padahal fasilitas menulis pada saat itu tidak secanggih seperti hari ini? Tidak ada microsoft word untuk menyimpan tulisan ataupun menyuntingnya. Tidak ada mesin fotokopi untuk menggandakan karya. Hanya tersedia kertas, pena, dan tinta —itupun dengan keterbatasan akses untuk membeli, mendapatkannya. Kalaupun ingin menggandakan karya, mereka harus mendiktekan atau menulis ulang secara manual.

Advertisements

Hal ini penting untuk dikemukakan. Demi menjawab pertanyaan tersebut, setidaknya ada beberapa hal yang melatarbelakanginya. Di antaranya, para ulama menulis dan berkarya tidak lain didasari keikhlasan sebagai investasi amal kebaikan di akhirat. Sebab, setiap tulisan yang dihasilkan, diharapkan menjadi ladang kebaikan yang pahalanya terus mengalir, sebanding lurus dengan manfaat yang dirasakan oleh pembaca.

Di samping itu, menulis merupakan salah satu upaya intelektual dari para ulama terdahulu. Hal itu dilakukan dalam rangka mewariskan ilmu pengetahuan kepada generasi selanjutnya. Menulis menjadi jalan para ulama untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Menulis bukan sekadar urusan hobi, karena mereka adalah penerus estafet perjuangan para Nabi.

Dalam sebuah hadis ditegaskan, bahwa para ulama merupakan pewaris para Nabi.* Setiap karya tulis yang dibaca, dipelajari, dan dikaji menjadi amal jariah bagi penulisnya. Semacam passive income bagi siapa yang menginginkan pahala kebaikan senantiasa mengalir kepadanya, bahkan ketika sudah meninggal dunia. Nabi Saw bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ:

صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:”Apabila manusia meninggal, amal perbuatannya menjadi terputus, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau dari anak saleh yang senantiasa mendoakannya (HR. Muslim).

Pemahaman hadis ini, menurut para ulama, tidak hanya terbatas pada tiga perkara. Sebab, ada beberapa amal yang juga menjadi ladang mengalirnya pahala. Imam as-Sayuti menyebut ada 10 perkara, salah satunya adalah menyebarkan ilmu dengan cara mengajar dan menulis.

Menurut Habib Zein bin Ibrahim Smith, ulama menafsirkan ilmu yang bermanfaat dalam hadis tersebut dengan tiga aktivitas, yaitu menulis, mengajar, dan berfatwa. Aktivitas menulis lebih dekat secara makna, sebab manfaatnya lebih dirasakan khalayak daripada aktivitas lainnya. Imam as-Subki juga menegaskan, sealim apapun seseorang, ia hanya berguna selama hidup saja. Kecuali jika ia meninggalkan karya atau memiliki murid yang menyerap keilmuannya dan menyebarkannya kepada orang lain.**

Selain itu, di antara rahasia produktif mereka yang lain adalah manajemen waktu. Manajemen waktu yang mantap dan brilian merupakan kunci keberhasilan para ulama. Mereka sadar sekali bahwa waktu adalah napas kehidupan. Mereka membagi waktu secara proporsional sehingga tidak ada yang terabaikan. Baik urusan pribadi seperti bercengkrama dengan keluarga, maupun urusan keumatan seperti membaca, mengajar, menulis dan lainnya. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya adalah sebuah keniscayaan bagi mereka, membuat umur terasa lebih panjang dan memberikan dampak positif.

Rahasia produktif manusia yang sebenarnya dimulai pada masa muda. Karena di waktu muda kita dapat bekerja secara optimal, fisik, dan semangat juga mendukung. Semakin kita menua, semakin besar tanggung jawab yang diemban, waktu menjadi semakin sempit, fisik pun kian melemah, semangat tak lagi menggebu, sementara kesibukan terus bertambah. Maka tidak ada alasan untuk bersegera memanfaatkan waktu dengan baik, terutama untuk berkarya.

***

Lantas, mengapa kita cenderung lesu dalam berkarya, terutama menulis?

Jika diamati secara cermat, hal ini disebabkan banyak di antara kita yang ingin menjadi penulis hanya sekadar mencari popularitas dan royalti semata. Menjadi penulis memang akan melambungkan nama seseorang karena publikasi karyanya. Tulisannya disukai dan dibaca oleh khalayak. Begitupun dengan royalti, seorang penulis akan menerima sejumlah uang hasil dari pemuatan karya di media cetak atau buku-bukunya yang terjual.

Tentu tidak ada yang salah dari dua orientasi keduniaan tersebut, sebab keduanya pun merupakan timbal balik yang sepadan. Secara naluri, manusia ingin dikenal dengan reputasi baik dan materi yang mumpuni. Namun, banyak sekali para penulis, terutama pemula, yang kandas akibat termakan ekspektasi tersebut.

Saya pun masih ingat bagaimana masa kuliah dulu, menulis menjadi salah satu kegiatan rutin demi mendapatkan honor tulisan. Bergerilya dari sejumlah koran ke koran lain, dari satu sayembara ke sayembara berikutnya, dan seterusnya. Dari honor yang tidak seberapa itulah saya membeli buku-buku. Hingga pada akhirnya, saya pernah mengalami kehilangan gairah menulis dan vakum selama lebih dua tahun. Hal tersebut tak lain, karena saya merasa semua tulisan selama ini hampa, kepuasan yang semu, tanpa hasil yang benar-benar berarti.

Kendala lainnya yang menyebabkan kita tidak produktif adalah tidak pandainya kita dalam mengelola waktu. Sebagian kita terlalu banyak membuang waktu, misal dengan menonton film, berbincang hal-hal tidak penting, atau bermain media sosial tanpa tujuan yang jelas. Sekali lagi, hal tersebut bukan masalah jika kita bisa membagi waktu secara proporsional, tidak berlebihan.

Waktu menjadi aset penting yang tidak tergantikan. Produktifitas dalam berkarya sangat bergantung pada waktu yang kita alokasikan. Tidak ada kata ‘tidak sempat’ jika kita telah mendisiplinkan membaca dan menulis setiap hari. Kemalasan dan ketidakpekaan kita dalam mengatur waktu, perlahan justru akan merusak. Maka, penting bagi kita untuk bisa menentukan prioritas serta menggerus distraksi yang mengganggu dalam hidup kita. Semoga kita dapat memanfaatkan dan bersikap adil terhadap waktu.

Produktif Menulis

Tradisi mulia membaca, menulis, dan berkarya, sebagai bentuk merawat tradisi ulama, diterapkan secara efektif di dua pesantren tempat saya mengabdikan diri: Darus-Sunnah dan Daarut Tauhiid. Kedua pesantren ini memiliki kemiripan, di antaranya mendorong para guru tidak hanya sekadar mengajar, melainkan juga produktif berkarya.

Darus-sunnah, misalnya, secara rutin menerbitkan buku karya dewan guru setiap tahunnya dan diluncurkan ketika wisuda santri. Buku tersebut nantinya dijual, disebarluaskan, atau menjadi bahan ajar.*** Begitu pun SMA Adzkia Daarut Tauhiid, dewan guru memiliki program antologi yang disusun secara kolektif dan diterbitkan secara berkala selama beberapa tahun terakhir. Saya sangat bersyukur dapat terlibat, mengabdikan diri serta belajar banyak hal pada kedua lembaga pendidikan islam di Tangerang Selatan ini.Tidak hanya guru, santri pun didorong untuk produktif dalam berkarya.

Komitmen dalam membangun tradisi membaca, menulis, dan berkarya di kalangan santri dibuktikan dengan penyelenggaraan Sidang Karya Tulis Ilmiah (KTI) di setiap tahunnya. Sidang KTI menjadi salah satu syarat kelulusan santri kelas akhir. KTI dikerjakan selama satu semester dengan pembimbing yang telah ditentukan oleh panitia pelaksana. Pekan sidang KTI merupakan waktu yang begitu mendebarkan bagi para santri. Betapa tidak, hasil KTI yang selama ini mereka susun akan diujikan di hadapan tim penguji.

Selain itu, demi membangun iklim membaca yang terasa menyenangkan, kedua pesantren tersebut memiliki program Literasi Mandiri. Program ini memberikan waktu khusus bagi santri untuk membaca buku apapun yang mereka sukai, baik fiksi maupun nonfiksi. Darus-sunnah menyediakan waktu rutin dua kali dalam seminggu, selama 15 menit sebelum masuk kelas. Sedangkan Daarut Tauhiid menyediakan waktu rutin setiap hari Jumat, selama 90 menit, sebelum memulai pelajaran jam pertama.

Program ini bersifat wajib. Para santri dituntut untuk terbiasa menikmati buku bacaannya. Proses memahami, menalar, dan berimajinasi menjadi kegiatan menyenangkan. Di luar jam tersebut, santri tetap diberikan keleluasaan untuk membaca dengan mengakses buku-buku di perpustakaan. Mereka dapat meminjam dan membawanya ke asrama. Mereka dapat mengisi waktu senggangnya dengan membaca setiap hari.

Walhasil, sungguh besar harapan saya mengajak semua kalangan, terutama para guru dan santri, agar produktif dalam menulis dan berkarya. Sekecil apapun kebaikan yang kita hasilkan dari menulis, niscaya akan membawa kebermanfaatan dan kemaslahatan.

———————————————————-

* HR. Bukhari, Abu Daud, dan Tirmidzi

** Zein bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj as-Sawy, Dar al-Ilm wa al-Da’wah, Tarim, Hadhramaut, hlm.122

*** Darus-Sunnah mewadahi publikasi buku-buku keagamaan melalui lini penerbitan buku yang dinamai Maktabah Darus-Sunnah. Selain buku-buku Kiai Ali Mustafa Yaqub yang dicetak ulang dari penerbit sebelumnya, buku-buku dewan asatiz dan santri pun rutin diterbitkan melalui penerbit ini.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan