Orang-orang Miskin

***
Pagi ini kantor desa kembali kedatangan Pak Arman dan Pak Yadi. Mereka akan mendengarkan keputusan dari kepala desa atas siapa yang berhak mendapat bantuan bulan ini. Walaupun masih pagi, suasana di depan kantor desa berubah menjadi panas kembali. Pak Arman dan Pak Yadi saling melempar alasan mereka harus mendapatkan bantuan sembako tersebut.

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh … baik, bapak-bapak. Untuk sembako yang bulan ini akan saya salurkan ke rumah tahfiz milik Pak Haji Imron. Kemarin beliau bercerita kalau rumah tahfiznya sedang kekurangan donasi. Maka dari itu, saya putuskan untuk diberikan ke rumah tahfiz saja. Lagi pula rumah tahfiz milik Pak Haji Imron, kan, di desa kita juga,” Pak Ahmad memberikan keterangan.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Betul bapak-bapak. Rumah tahfiz saya sekarang muridnya bertambah, sedangkan donaturnya belum ada yang cair. Mohon diikhlaskan ya, bapak-bapak. Terima kasih,” lelaki berpeci putih di samping Pak Ahmad angkat bicara, lantas menyuguhkan seulas senyum.

Baca Juga:   Hari Santri 2021 (1): Refleksi Jihad Kontemporer

“Sudah jelas, ya, Pak. Sekarang, silakan pulang ke rumah masing-masing dengan lapang dada. Mohon maaf atas segala kekurangan dan terima kasih atas perhatian. Wassalamualaikum.”

“Pak, keluarga saya sudah habis persediaan sembakonya, tolonglah, Pak,” rengek Pak Yadi. Namun, tak ditanggapi oleh kepala desa itu.

Terpampang jelas wajah Pak Arman dan Pak Yadi muram. Lemas. Bagaimana tidak? Setelah dua hari berjuang saling mengaku berhak mendapat bantuan sembako. Eh, ternyata berakhir nihil. Pulang dengan tangan kosong semua.

Baca Juga:   “Celurit Emas” yang Mengasah Ketajaman Jiwa

Pak Ahmad mengumumkan dengan detail. Kemudian, kembali masuk ke ruangannya. Dia tak mau ada perselisihan antarwarganya karena iri dan cemburu. Jadi, dia putuskan saja supaya semuanya tak dapat bantuan sembako bulan ini.

Tinggalkan Balasan