Nusantara dan Pancasila

2,095 kali dibaca

Sesungguhnya raja-raja di Nusantara memiliki hubungan kekerabatan atau memiliki hubungan darah. Meraka adalah Raja Kundunga, kerajaan Kutai Kertanegara di Kalimantan Timur; Rajadirajaguru Jayasingawarma, kerajaan Tarumanegara di Lebak Banten; Sori Mangaraja, kerajaan Batak Kuno di Sumatera Utara; Dapunta Hyang Sri Jayanasa, kerajaan Sriwijaya di Palembang; Sri Jayabhupati, kerajaan Pajajaran di Parahiyangan Sunda; Airlangga, kerajaan Kahuripan di Kediri, Jawa Timur; Raja-raja kerajaan di Bali; Ken Arok, kerajaan Singhasari di Malang, Jawa Timur.

Pada 1275 M, Raja Kertanegara membangun Ekspedisi Pamalayu untuk membendung serbuan bangsa Mongol. Marah Silu atau Sultan Malik as-Saleh berdaulat di Kesultanan Samudera Pasai di Aceh. Raden Wijaya di Kerajaan Majapahit. Pertengahan abad ke-14 M, Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada memimpin Majapahit mencapai kejayaan. Pada masa itu, ada tiga imperium dunia: Kekaisaran Majapahit, Kekhalifahan Usmaniyah, dan Kekaisaran Romawi. Kesultanan Demak didirikan oleh Raden Fatah, putra Prabu Brawijaya V. Kemudian, Danang Sutawijaya mendirikan Kerajaan Mataram.

Advertisements

Raja-raja Nusantara sepakat membentuk dan membangun aliansi kerajaan-kerajaan di Nusantara. Persatuan ini berhasil meningkatkan kekuatan menghadapi serbuan asing sehingga dalam kurun abad ke-4 hingga ke-15 M, rakyat Nusantara merdeka dari penjajahan bangsa asing. Kekaisaran Nusantara dipimpin oleh maharaja atau kaisar yang dipilih secara musyawarah oleh raja-raja di seluruh Nusantara.

Awal abad ke-16, Portugis masuk Malaka. Spanyol mendarat di Tidore. Akhir abad ke-16, ekspedisi de Houtman (Belanda) tiba di Sumatra. Awal abad ke-17, Britania mendirikan benteng di Banda. Nusantara, di akhir abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-20, dikuasai pemerintah kolonial Belanda, kemudian Jepang pada 1942 -1945. Pendek kata, selama 500 tahun, Nusantara dikuasai oleh bangsa-bangsa asing.

Dalam proses kemerdekaan bangsa ini, para bapak bangsa atau pendiri Negara seperti Muhammad Yamin, Supomo, KH Wahid Hasyim, dan lain-lain menggali kearifan lokal yang tertulis dalam kitab-kitab kuno misalnya Negara Kertagama karya Mpu Prapanca dan Sutasoma karya Mpu Tantular. Para wali dan kiai, berdasar kitab suci al-Quran dan sirah Nabawiyah, membaca kitab kehidupan Nusantara.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan