duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

NU Merintis Jalan Damai Dunia (2)

Disebutkan dalam catatan KH Mun’im, saat melihat surat yang ditulis Mulla Umar, para delegasi Taliban tercengang dan secara spontan berteriak “Amirul Mukminin. Mereka tidak menyangka kalau NU mendapat amanat langsung dari pemimpin besar mereka untuk mengupayakan perdamaian.

Hal itu membuat mereka semakin percaya kepada NU, karena melihat bahwa apa yang dilakukana NU merupakan amanat langsung dari pimpinan mereka, bukan karena kepentingan politik atau ekonomi. Menganai suasana dialog, isi dialog, dan hasilnya akan penulis paparkan lebih detail dalam tulisan berikutnya.

Advertisements
Cak Tarno

Setelah melakukan dialog, mereka diajak keliling bertemu dengan para pemimpin negara; Ketua DPD RI Oesman Sapta, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan keliling ke beberapa pesantren di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Baca Juga:   Nasi Goreng Sumardin

Mereka sangat terkesan saat mengunjungi pesantren, terutama ketika melihat para santri yang masih kecil-kecil berdiri membentuk pagar betis menyambut kedatangan mereka sambil bersalaman mencium tangan. Bahkan di antara mereka menangis terharu melihat kenyataan ini. “Bagaimana bisa mendidik dan mempersiapkan anak-anak dengan akhlak mulia seperti ini,” tanya seorang delegasi.

“Ini bisa kita lakukan kalau negara dalam keadaan damai. Kita tidak mungkin bisa menyiapkan generasi muda berakhlak dan berkualitas jika negera kita terus dalam kondisi kacau karena konflik dan peperangan. Dan itu sama saja dengan kita membunuh masa depan Islam,” demikian jawaban Kiai As’ad atas pertanyaan dari delegasi Taliban tersebut.

Mendengar jawaban ini, mereka semakin terharu. Para delegasi ini mulai membayangkan bagaimana kehidupan yang damai di pesantren ini bisa diwujudkan di negeri mereka. Mereka ingin anak-anak Afghanistan bisa mengaji di pesantren seperti anak-anak Indonesia. Mereka ingin anak-anak Afghanistan bisa menyambut tamu dengan alunan Selawat Badr sambil mencipum tangan para ulama. Dari dialog dan kunjungan ke pesantren inilah mulai terjadi perubahan pemikiran di sebagian pemimpin Taliban.

Baca Juga:   Besi dan Santri

Sebagai tindak lanjut dari dialog dan anjangsana ini, PBNU memberikan beasiswa kepada mahasiswa Afghanistan untuk belajar di perguruan tinggi dan pesantren di Indonesia. Pada gelombang pertama, ada 25 orang mahasiswi dan beberapa orang mahasiswa yang belajar di Semarang, Surabaya, dan Malang.  Ada di antara mereka yang sudah lulus dan kembali ke Afghanistan dan beberapa di antaranya masih melanjutkan kuliah Indonesia.

Halaman: First ← Previous ... 2 3 4 Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan