Ngaji Kitab Nashaihul Ibad: Mengenal Allah, Mengenal Diri

Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Kecamatan Batuputih kembali melaksanakan Ngaji Kitab Nashaihul Ibad yang diampu oleh KH Ali Fikri A. Warits, pengasuh Pesantren Annuqayah, Sumenep, Madura. Kali ini, Sabtu, 18 September 2021, kegiatan ngaji kitab dilaksanakan di rumah Ustaz Asnari, Desa Jaruan Laok, Kecamatan Batuputih.

Sebagaimana biasanya, pengajian ini diawali dengan pembacaan surah Yasiin dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dikhususkan (dihadiahkan) kepada para masyaikh Pesantren Annuqayah.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Materi Ngaji Kitab Nashaihul Ibad kali ini adalah risalah ke-14, tentang seorang ahli hikmah (waliyullah) berkata, “Barang siapa yang menduga bahwa baginya ada penolong yang lebih utama daripada Allah, maka orang tersebut (hakikatnya) tidak mengenal Allah.”

Artinya bahwa penolong yang sebenarnya adalah Allah. Tidak ada penolong selain-Nya yang pantas dijadikan harapan. “Dan barang siapa yang menduga bahwa ada musuh yang lebih besar dari dirinya sendiri, maka orang tersebut (hakikatnya) tidak mengenal dirinya sendiri.”

Baca Juga:   Banjaran Karna

Bahwa sebenarnya berpegang teguh kepada kemampuan diri sendiri merupakan asas dari kesuksesan (kebahagiaan).

Selanjutnya, Kiai Fikri menjelaskan risalah ke-15, bahwa Abu Bakar As-Shidiq menafsirkan ayat Al-Quran, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut,” (QS. Arrum: 41). Bahwa yang dimaksud dengan barr (darat) adalah ucapan (lisan), sedangkan bahr (laut) adalah hati. Maka ketika lisan rusak, seperti menghina atau mencela, maka akan menyakiti orang yang dihina atau dicela. Adapun jika terjadi kerusakan pada hati, maka akan menyebabkan para malaikat sedih dan menangis.

Baca Juga:   Duka Tukang Batu

Dijelaskan lebih jauh, bahwa yang dimaksud dengan hal tersebut di atas adalah hendaknya kita selalu menjaga lisan dengan ucapan dan ungkapan yang baik dan benar. Sementara hati harus selalu dijaga agar tidak berpaling dari harapan-harapan hanya kepada Allah swt. Lisan hanya ada satu, berbeda dengan telinga dan mata yang masing-masing ada dua. Itu artinya, mendengar dan melihat harus lebih banyak daripada berbicara.

Selanjutnya Kiai Fikri menjelaskan maqalah ke-16, sehubungan dengan ungkapan ulama bahwa, “Syahwat dapat menjadikan seorang raja menjadi budak, sedangkan sabar dapat menjadikan seorang budak menjadi raja.”

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan