duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Musala Kiai Misbach

Embusan angin perlahan-lahan mulai terasa. Cahaya purnama mulai memancar lagi usai ditelan awan. Sesekali sang purnama pun sirnalah lagi diadang cemara atau bahkan ilalang. Angin pun bergerak ke arah sang surya terbit, seakan menggiring pulang para jemaah salat isya. Suara gesekan kaki dengan sendal mengiringi kepulangan jemaah.

Baca Juga:   Pantulan Kebhinekaan di Desa (3): “Resik Kubur” di Kalikudi

“Tempat ini untuk ibadah. Jangan untuk gurauan atau keduiawian,” nasihat Gus Fadil, putra Kiai Misbach yang disampaikan tadi di antara maghrib dan isya.

Advertisements
Cak Tarno

Gus Fadil lantas bercerita bahwa tempat ibadah harus punya ruh dan dijaga kesuciannya. Pantang untuk gurauan, tempat bermain anak-anak kecil, politik, atau jagongan hal-hal yang bersifat duniawi. Tempat itu juga harus suci dan bersih; baik tempat, badan, hingga hati para warga yang datang.

Baca Juga:   Seri “Wali Pitu” di Bali (2): Habib Ali Bafaqih

Malam itu sama dengan malam-malam berikutnya. Musala benar-benar penuh sesak dengan jemaah. Tak peduli tua-muda, miskin-kaya, laki-perempuan tidak bisa meninggalkan salat berjamaah. Musala satu-satunya di dusun kecil itu semakin ramai.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan