Merindukan Pendidikan Inklusif di Pesantren

KH Sahal Mahfudz (alm) dalam sebuah seminar “Memahami Karakter Islam di Pesantren” Yogyakarta 2005 menyampaikan pandangan bahwa ada empat karakter yang dimilki pesantren yaitu: 1) Teguh dalam hal aqidah dan syariah; 2) Toleran dalam hal syariah dan tuntunan sosial; 3) Memiliki dan dapat menerima sudut pandang yang beragam terhadap sesuatu permasalahan sosial; 4) Menjaga dan mengedepankan moralitas sebagai panduan sikap dan perilaku keseharian.

Dunia pesantren mengajarkan para santri untuk toleran, mandiri, bijak dalam mengambil keputusan, selalu menerima perbedaan, dan bersikap moderat. Nilai-nilai yang diajarkan di pesantren tersebut sangat sesuai dengan tujuan pendidikan inklusif untuk mensukseskan pendidikan untuk semua atau dikenal dengan Education For All (EFA), yaitu pendidikan yang merata untuk semua lapisan masyarakat. Dengan demikian, pendidikan di pesantren seharusnya juga disadari oleh semua –termasuk pengelola pondok pesantren— sebagai hak mendasar yang sudah semestinya menjadi hak semua anak, tanpa kecuali ABK. Menurut paradigman baru pendidikan sekarang ini, bahwa inklusivitas dalam pembelajaran berhasil meningkatkan mutu sekolah.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Mengakhiri tulisan ini, penulis berpandangan bahwa secara mendasar, prinsip-prinsip yang melandasi terwujudnya masyarakat inklusif telah menjadi bagian dari tatanan masyarakat Indonesia dan pesantren. Dengan demikian, membangun lingkungan pesantren yang inklusif bagi difabel tidaklah rumit, karena nilai-nilai inklusif sudah menjadi nilai yang diajarkan pesantren selama ini. Ranah yang harus disiapkan untuk terwujudnya inklusivitas adalah kebijakan yang mendukung serta memberikan jaminan sarana dan prasarana untuk mewujudkan harapan atas kesetaraan dan keadilan dalam pendidikan.

Tinggalkan Balasan