Jatim Pilih 30 Pesantren Jadi Pilot Project Program OPOP

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Jawa Timur telah menetapkan setidaknya 30 pesantren di wilayahnya untuk diikutkan dalam program pendampingan One Pesantren One Product (OPOP) Training Center. Kamis pekan lalu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meresmikan peluncuran OPOP Training Center yang ditempatkan di Universitas nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

OPOP Training Center ini didirikan untuk menjadi pusat research and development (R&D) produk unggulan pondok pesantren Jawa Timur. Tujuannya, agar produk unggulan pondok pesantren bisa dikembangkan kualitasnya dan juga dibangun jejaring pemasarannya sehingga bisa masuk ke skala pasar yang lebih luas. Lembaga ini dipimpin oleh M Nuh, mantan Menteri Pendidikan.

Advertisements
Cak Tarno

Di Jawa Timur saat ini ada sekitar 6000 pesentren. Dari jumlah itu, pada tahap awal yang disiapkan untuk dijadikan pilot project pendampingan dari OPOP Training Center berjumlah 30 pesantren.

Baca Juga:   Hari Ini, Dewa Budjana di “Nusantara Berkisah”

Menurut Khofifah, khusus di Jawa Timur, program OPOP dikembangkan melalui tiga pilar. Pertama, menyasar santripreneur untuk menciptakan wirausaha baru di kalangan siswa Aliyah,  SMA,  SMK, mahasiswa, dan santri lainnya yang ada di lingkungan pesantren. Kedua, pesantrenpreneur yang merupakan peningkatan kualitas dan pemasaran produk melalui penguatan koperasi pesantren. Dan, ketiga, sociopreneur yang tak lain merupakan upaya menumbuhkan wirausaha baru dari kalangan alumni pesantren yang melibatkan masyarakat sekitar pesantren

Baca Juga:   Santri Aceh Dalami Ilmu Falak

“Saya melihat potensi pesantren luar biasa. Ada 6 ribu lebih pesantren di Jatim. Sidogiri bahkan sudah menunjukkannya dengan membangun jejaring lewat retail dan perbankan syariahnya,” kata Khofifah saat meresmikan OPOP Training Center.

Khofifah menjelaskan, pesantren sebenarnya sudah mempunyai produk-produk unggulan, khusus komoditas pertanian dan handicraft. Bahkan, beberapa pesantren telah mengembangkan animasi, film, serta produk digital IT lainnya. Hanya, pesantren-pesantren tersebut masih butuh pendampingan. Pendampingan diperlukan agar quality control produknya tetap terjaga dengan baik, quantity produknya mencukupi, dan continuity produknya bisa terjaga. “Sehingga ketika ada permintaan dalam jumlah besar, pesantren-pesantren ini telah siap,” Khofifah menegaskan.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan