Mensyiarkan Bidah Tahun Baru Hijriah

Hari ini umat Islam sedunia merayakan tahun baru Hijriah 1443 yang dianggap sebagai tahun baru Islam. Penetapan tahun baru Hijriah ini sebenarnya tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad. Artinya, pada zaman Nabi tidak ada tahun Hijriah. Beberapa data sejarah menunjukkan, penetapan tahun baru Hijriah baru dilakukan pada masa Khalifah Ummar Bin Khattab.

Bermula dari Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari yang kebingungan saat menerima surat yang tanpa tahun. Kemudian, Abu Musa al-Asy’ari, yang saat itu menjadi Gubernur, mengirim surat kepada Khalifah Umar menanyakan masalah tersebut: “Engkau mengirim surat kepada kami tetapi tanpa ada tahun di dalamnya,” demikian antara lain bunyi surat tersebut.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Merespons surat dari Abu Musa, Khalifah Umar kemudian mengumpulkan para sahabat untuk mendiskusikan masalah tersebut. Para sahabat yang hadir, di antaranya Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Saad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin Auf, Thlahah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam.

Baca Juga:   Kemelut Gondang Wangi

Mereka berdisksusi untuk menyusun kalender Islam. Singkat cerita, akhirnya mereka sepakat kalender Islam dimulai dari tanggal 1 Muharram dengan perhitungan mengikuti perputaran bulan (qamariyah), bukan perputaran matahari (Syamsiyah).

Sebelum penetapan tahun baru Hijriah, tradisi penanggalan bangsa Arab selalu merujuk pada peristiwa besar dan menumental. Dijelaskan oleh Imam Ibn Jauzi dalam al-Muntazham fit Tarikhil Mulk wal Umam, juz 4; 226-227, pada masa sebeum Nabi Mushammad penanggalan dihitung dari peristiwa besar atau kemunculan seorang tokoh. Misalnya, penanggalan dimulai dari peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim sampai diutusnya Nabi Yusuf. Penanggalan ini berakhir sampai munculnya Nabi Musa sebagai utusan. Demikian seterusnya.

Baca Juga:   Makin Banyak, Santri Al-Ikhlas Bone Diterima di PTN

Pada zaman Nabi Muhammad, tradisi menetapkan penanggalan dan nama tahun berdasarkan kejadian monumental ini tetap dilakukan, sebagaimana tercermin dalam nama tahun kesedihan (‘amul Khuzny), yaitu tahun untuk menandai wafatnya orang-orang terkasih Nabi; tahun Khandaq untuk menandai peristiwa perang Khandaq; tahun Gajah untuk menandai peristiwa penyerbuan raja Abrahah ke Makkah untuk merusak Kah’bah dengan pasukan Gajah. Di tahun ini pula Nabi Muhammad lahir. Meski tidak ada penetapan tahun, namun perhitungan kalender pada saat itu menggunakan patokan peredaran bulan (qamariyah), sebagaimana tercermin dalam beberapa ayat Al-Quran yang menggunakan hilal sebagai patokan dalam melakukan ibadah.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan